Selasa, 12 Mei 2015

kumpulan puisi_ku



Mutiara tertanam
Pandangan yang terhunus tajam
Seakan menukik.....
Menghancurleburkan kepenatan di hati
Tutur kata yang teramat bersahaja
Terhujam begitu tajam, begitu dalam
Terurai sebuah kata.....SEMPURNA
           
Terhujam sebuah kata sederhana
            Telah terjawab kegalauanku
            Cakrawala yang dahulu redup
            Kini telah bangkit
            Memunculkan secerca cahaya
            Di balik jeruji kepenatan

Pandangan yang terhunus tajam
Memberi makna...
Betapa anggunya kepribadianmu
Indah dipandang
Dalam kemurnian akhlakmu
           
Kupandang lagi dirimu
            Merenungkan segalanya
            Tiada cela-cela apapun
            Yang dapat ku cerca
            Hanya satu kata terlintas
            “SEMPURNA”
                                                              “Karya;ibrahim zane”
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
                          









Diatas titian jahannam
Dalam deru darah dan debar jantungku
Selalu terlintas nama  “Mulia-Mu”
Selalu terbayang “Kebesaran-Mu”
Selalu ku agungkan “Nama-Mu”

  Akan tetapi deruh darah dan debar jantung itu
  Telah berubah..!!!
  Menjadi deruh dan debar bisikan yang hitam
  Deru dan debar kemuliaan itu
  Telah musnah di telan hari-hariku

Wahai dunia......sadarkan aku.... sadarkan aku..
Dalam gelombang nadiku
Dalam desahan nafasku
Jahannam menantiku...
Jahannam menyertaiku...
Jahannam mengintaiku...

  Jangan biarkan aku terlarut
  Jangan biarkanku hanyut
  Dalam kesesatan dan kehitaman ini
  Ku ingin kembali
  Dari titian jahannam..
                                                              
                                                                Karya:Ibrahim Zane 
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)








Sumpah pemuda
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Menyatakan.....berbahasa satu bahasa Indonesia
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Menyatakan....berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Mengaku....bertumpah darah satu yaitu tanah air indonesia

 Kata - kata itu yang telah engkau
                           ikrarkan
 Janji - janji itu yang telah engkau kumandangkan
                           Bergejolak jiwaku,,,,membakar samengat

Bersatulah jiwa yang baru
Bersatulah semangat yang baru
Dengan tangan inilah
Dengan akal inilah
Kita buka cakrawala yang revolusioner

                           Tak usah ragu....
                           Tak usah pamrih...
                           Tatap masa depanmu
                           Tantangan menghadangmu
                           Mari kita buat perubahan yang berarti

                     KARYA;Ibrahim Zane
                         (LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)









“HARAPAN”
Satu malam
Satu lemba saja
Diam dan mulailah
Menuliskannya..
Bukankah janjimu                                   
Ingin jadi SARJANA..
Janganlah membut mereka
Meneteskan air mata mulia mereka..
Bukankah harapan mereka
Tidak mengada-ada
Hanya ingin melihat
Kamu menjadi SARJANA..
Baju toga itu
Meringankan semua
Keringat mereka..
Menghapus air mata mulia mereka..
Membayar semua pengorbanan mereka..
INGAT...bukan emas dan permata
Sebagai bentuk balasan jasa...
SARJANA...saja...
Lupakah kamu waktu itu
Mereka mengantarmu ke kota...
Mereka pulang, lalu bercerita kepada
Siapa saja bahwa anakku
Sekarang kuliah dan menjadi calon SARJANA..
Mereka lalu menjual apapun yang ada..
Mereka mulai menghemat uang belanja..
Tetap bekerja walaupun hujan dan panas
Yang mereka rasakan....
                           (didedikasikan untuk AYAH dan IBU)
                                                                                                   KARYA: anonimus ( i )
                                                                                        (LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)



rapuh



 

Bisakah aku berdiri sendiri
Bisakah aku tegar...terkadang aku tegar
Akan tetapi...
Aku di kalahkan oleh keadaan...
                           Hati yang dulu tegar
                           Kini mulai rapuh
                           Mata yang dulu kering
                           Kini mulai di basahi...
                           Oleh tetesan-tetesan air mata...
Bila di ujung penantian
Ku dapat tegar kembali...
Dapatkah semua itu ku lakukan...
Hanya dapat meratapi nasip...
aku lemah, tak dapat berdaya...
                           Luka ini membuat ku sadar
                           Yang tampak dengan mata
                           Tak selamanya nyata...
                           Yang di rasakan indah...
                           Suatu saat akan hilang tanpa jejak...
Tapi hati ini mengajarkanku...
Arti dari keindahan itu
Hanyalah bayangan semu semata...
Dan fatamorgana....
                                                                

                                                                 KARYA: Ibrahim Zane
                (LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)




cerpen
   Buat kalian semua, saya ucapkan beribu-ribu terima kasih atas doa, dukungan, motifasi. Karna tanpa kalian tanpa doa restu kalian aku tidak akan seperti ini,tidak akan berdiri sendiri di sini..sejak pertama ku ingin melangkahkan dan meninggalkan semuanya, kalian sempat berkata kepadaku dengan suara yang lembut” Ananda apakah kami mampu merelakanmu untuk pergi” kata-kata itu yang sempat mematahkan dan menggoyahkan semangatku yang membara. dan ku yakinkan mereka”Ayahanda......Ibunda......jika hati kecil kalian tidak merelakanku untuk pergi meninggalkan kalian ku hargai hal itu. Jangan hanya untuk mementingkan masa depanku tetapi kalian ikut terjerumus, tersiksa dan ikut menderita dengan apa yang ku inginkan dan ku impikan selama ini. Walaupun susah kita akan selalu susah bersama, senangpun akan slalu demikian pula. Aku rela mengorbankan masa depanku demi Ayahanda dan Ibunda..
   Sehari sebelum menjelang keberangkatanku, mereka memanggilku dengan seruan yang lembut dan penuh semangat “ Ayahanda dan Ibunda ingin mengatakan sesuatu hal kepadamu , mungkin ini kabar bahagia untuk kami tapi bukan untukmu, karna kami tau apa yang sedang engkau gundakan dan khawatirkan jika ini kami katakan dan jika memang ini benar - benar terjadi dalam kehidupanmu
   Dalam hatikupun bertanya - tanya seraya menatap ke wajah ceria mereka, lalu aku lontarkan sepatah kata kepada orang yang aku muliakan sepanjang hayatku itu” Ayahanda....Ibunda ada kabar apa yang membuat wajah kalian menjadi berseri-seri seperti orang yang mendapatkan durian yang runtuh”, candapun aku lontarkan kepada mereka. Lalu mereka mangatakan hal yang tak pernah ku duga sebelumnya, walaupun pada saat itu kebahagiaan meliputi wajahku akan tetapi aku tidak dapat menyembunyikan kesedihanku pada saat itu karna tak dapat ku gambarkan dengan kata-kata apapun....
     
  Seraya mendekat ke hadapanku, dengan suara yang amat lembut mereka mengatakan “Ananda kamu dapat melanjutkan studimu dan meraih apa yang selama ini engkau impikan”, jantungku berdetak dengan kencang, darahku mengalir dengan begitu lancar, satu yang terlintas dalam pikiranku dan penatku pada saat itu” kekhawatiran dan rasa haru” karna aku tahu mereka melakukan ini demi aku demi masa depanku, terimasih Ayahanda....teima kasih Ibunda. Akan tetapi apakah aku bisa mengemban amanat tersebut apakah aku bisa memikul kepercayaan itu. Lalu ku tatap berkali-kali wajah keduanya yang denga senyumannya yang sangat khas dan kental akan keceriaan tersebut, hati ini menangis, hati ini menjerit pilu, aku tahu dan aku sadar bahwa mereka tidak mampu lagi untuk membiayai lagi studiku ke jenjang yang lebih tinggi lagi...tetapi karna tekatku yang begitu besar sehingga mereka berkorban dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka, memeras keringa mereka agar saya dapat melanjutkan studiku ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
   Malampun menyapa kediaman kami yanng sangat sederhana itu, saya duduk bersimpu bersama keluarga besarku, sekali - sekali ku lempar tatapanku ke arah wajah kedua idolaku seumur hidupku tersebut yaitu wajah-wajah yang akan ku tinggalkan kelak nantinya.

Tanpa aku sadari air matakupun ikut berurai merasakan kesedihanku malam itu, karna ku tak sanggup meninggalkan mereka. Lalu terdengar lantunan dan tepukan di pundak kananku, kata-kata itu sangat bersahaja ku dengar telingaku” Ananda jaga dirimu baik-baik, belajar dengan sungguh - sungguh buktikan bahwa kata- katamu yang engkau lontarkan bisa engkau wujudkan bukan hanya omongan belaka semata, dan wujudkan cita-citamu itu di kampung halamannya orang....air mataku semakin bercucuran deras dan tak dapat tertahan lagi, aku semakin terbawa dengan suasana di kediamanku pada malam itu....Kakakku tercintapun ikut mengambil bagian untuk memberiku semangat, dorongan, dan motifasi kepadaku agar aku dapat bertanggung jawab dengan apa yang telah di amanatkan oleh Ayahanda dan Ibundaku kepadaku sebelumnya.
   Semakin mereka memberiku semangat dan dorongan semakin aku tak sanggup meninggalkan mereka, lalu Kakakkupun memberiku suatu wejangan yang sangat bermakna dalam hidupku kelak di rantauan orang” Adikku hanya engkau adik laki-lakiku  satu-satunya hanya kamu harapan Ayahanda....Ibunda, Kakak dan harapan keluarga besar kita jadi kakak harap jangan kecewakan kami terutama Ayahanda dan Ibunda, semangat belajarmu adalah pemicu semangat kami pula untuk selalu mencari rizki yang walau harus membanting tulang siang dan malam walau napas terengah - engah. Mendengar kata-kata itu air mataku semakin lancar jatuh berderai, ku peluk erat-erat kakakku dan aku hanya bisa terdiam tanpa kata. Dan diapun mencoba menenangkanku seraya berkata” Adikku kuatkan hatimu, tegarkan imanmu, bulatkan tekatmu. Di mana adiknya kakak yang dulu tegar, di mana adikku yang dulu ceriah, di mana adikku yang dulu kuat, kakak percaya kepadamu adikku, lanjutkan lagi semangatmu, raih apa yang kamu ingin raih, gapai yang ingin kamu gapai, ini saatmu adikku......ini kesempatanmu kakak akan selalu berdoa untuk untuk keberhasilanmu adikku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami pula, sedihmu adalah cemeti buat kami semua, tetap semangat adikku doa kakak akan selalu menyertai perjalanan muliamu.
         
   Dengan wejangan inilah yang menjadikanku untuk semangat meraih apa yang selama ini ku impikan. Akan ku buat mereka bangga, akan ku ubah perkataan orang terhadap keluargaku...INGAT ITU....!!!!
   Pada suatu pagi tepatnya pada pukul 06.30 menjelang keberangkatanku menuju ke kota, merekapun turut menemani dalam setiap langkahku. Gelimangan air mata mereka pula turut menghantarkanku pergi meninggalkan keluarga besarku dan para teman - teman seperjuanganku. Sebelum menuju ke kapal mereka sempat memelukku,menciumku seakan - akan mereka tak ingin melepaskanku. Akan tetapi kuyakinkan semua keluargaku yang tercinta.....
  “Ananda pergi untuk kalian”
  “Ananda pergi untuk janji ananda yang pernah ananda ucapkan”
  “Ananda pergi untuk kita semua”
        
   Jadi ananda berharap relakan anada dengan hati yang ikhlas, relakan ananda untuk kebaikan. Lalu ku langkahkan kakiku menuju kapal dengan hati yang tidak rela melepaskan mereka, akan tetapi apa boleh buat hal ini harus terjadi padaku karna ini yang terbaik untukku dan untuk keluargaku kelak nanti. Anak demi anak ku tapaki tanggal kapal pandangan merekapun tak pernah melepaskanku, sesampainya di atas kapal terdengar seruan suara ibundaku tercinta yang sangat khas dan kental dengan suara kesedihannya” Ananda jaga dirimu baik-baik ibunda akan selalu merindukanmu....
  sirena kapalpun berbunyi pertanda kapal akan segera bertolak dari pelabuhan. Ku tatap ibundaku di dalam kerumunan orang banyak, dengan lambaiannya seraya bertolaknya kapal menghantarkanku pergi meninggalkan keluargaku dan ibundaku tercinta...
   Mulai dari saat itulah, ku bulatkan tekatku untuk bersungguh - sungguh di rantauan orang. Dan kata-kata merekalah yang membuatku tetap semangat menjalani hidup ini.

Moto
Akan kuhapus keringat  kedua orang tuaku dengan saputangan keberhasilanku







Karya : ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
















ANAK RANTAU
Takkala fajar menyingsing
Air mataku slalu berderai
Takkala matahari terbit
Air mataku selalu berderai
    Di negeri orang ku coba bertahan
    Mengais sedikit belas kasihan
    Bertahan dengan sedikit iman
    Berharap gelap menjadi terang
Di sini telah ku tancapkan harapan
Telah aku tancapkan semuanya
Karna aku yakin, tak ada yang tak mungkin
Semua pasti bisa berubah
    Dengar.... dengarlah jeritanku
    Jeritan anak perantau
    Jeritan hati yang selalu jauh dari keluarga
    Ayah... bunda akan aku tepati janjiku
Akan tetapi.... ingat....
Jeritan itu akan jadi seruan
Akan jadi acuan semua orang
Takkala di hari depan
    Jangan memandang
    Jangan engkau melecehkan kami
    Kami sanggup berdiri...
    Kami masih sanggup berlari
Sepanjang mata memandang
Tak ada yang dapat ku jadikan pegangan
Hanya desiran dan deburan
Tenangnya lautan FLORES
TUNGGU AKU,... AKU PASTI KEMBALI


                                                               Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)











SAHABATKU

Ku yang berjalan sendiri
Hanya dapat berpegang kepadamu
Hanya dapat mengeluh kepadamu
Hanya dapat menjerit kepadamu
   
    Engkau yang menjadi penuntunku
    Dalam baik buruknya
    Dan manis pahitnya hidup
    Hanya kata-kata yang dapat terucap

Dalam sedihku...engkau selalu ada
Dalam rintihku...engkau mendampingiku
Walaupun terkadang aku lemparkan kata-kata
Kata-kata yang menyakiti hatimu
   
    Terima kasih temanku..
    Terima kasih sobatku..
    Tanpa engkau aku bukan apa-apa
    Tanpa engkau aku bukan siapa-siapa

Entah kapan....dan dimana
Ku dapat membalas jasamu
Yang setara, yang setimpal
Dengan apa yang kamu lakukan...
   
    Engkau penasehat terbaikku
    Engkau keluarga terbaikku
    Engkau tumpuan di negri orang
    Engkau sahabat-sahabat terbaikku

                    
                                                                  Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)










RESTUMU BUNDAKU

Aku pergi dengan tekatku
Tetapi aku dengar dengungan suara
Yang tak rela melepasku
Untuk melangkah lebih jauh
    Gelimangan air mata haru
    Menghantarkanku pergi
    Meninggalkan semua yang pernah aku miliki
    Menuju gemerlap dunia luar
Hati kecil ini pun berbisik
Engkau pergi untuk mereka
Engkau melangkah untuk mereka
Engkau berkorban untuk masa depan
    Seraya dengan menghilangnya bayangan itu
    Angin yang sepoi, membawa getaran
    Getaran sebuah nada dan lantunan yang lembut
    Yang tak dapat ku bendung dengan hatiku
Bayangan itu semakin kecil
Tetapi suara lantunan sebuah kata
Tetap mengiringiku menuju peraduanku
Yang selama ini yang aku impikan
    Bagai petir yang menyambar tanpa awan
    Kata itu membakar semangatku
    Menumbuhkan daya juangku
    Untuk terus melangka...melangkah
Hanya satu senjata yang di berikan
Hanya sebaris kalimat yang di berikan
Hanya sepotong ilmu yang di berikan kepadaku
Yang selalu aku jadikan pegangan hidup
    Ananda melangkahlah
    Melangkah lebih jauh
    Genggam mentari yang bersinar
    Gapai cita-citamu
Disini kami selalu ada untukmu
Doa restu kan selalu menyertaimu
Selamat jalan anada
Selamat jalan ananku tercinta           
                                                             

                                                               Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)




“TEGAR”
Langakah demi langkah
Telah ku jalani
Tatih demi tatih
Telah aku lewati
    Bisakah aku seperi dia
    Akankah aku seperti dia
    Hanya keyakinan yang ada
    Dan tersisa pula keberania
Langkah ini, telah membawaku ke sebuah titik
Ku melangkah dengan pasti
Ku berjalan dengan keyakinan
Akan ada sebuah cahaya di kegelapan
    Lelah...lelah...lelah...
    Hanya kata yang menemaniku
    Hanya kata itu yang jadi tongkatku
    Tongkat keberhasilan
Tak ada yang bisa aku jadikan sandaran
Tak ada yang bisa ku jadikan acuan
Hanya mengikuti apa yang berbisik
Dan kedalaman bisikan qalbu
    Mentari tak dapat lagi aku jadikan teman
    Di kala malam...
    Bulan tak dapat lagi aku jadikan sobat
    Di kala siang...
Tekatku semakin tumbuh
Di kala aku dengar seruan hati
Yang tatkala aku dengar
Laluilah dengan ketabahan
                
                                                                    Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)










                                                                                                                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar