Selasa, 15 September 2020

 

Arti Kata Pergi

   Buat kalian semua, saya ucapkan beribu-ribu terima kasih atas doa, dukungan, motifasi. Karna tanpa kalian tanpa doa restu kalian aku tidak akan seperti ini,tidak akan berdiri sendiri di sini..sejak pertama ku ingin melangkahkan dan meninggalkan semuanya, kalian sempat berkata kepadaku dengan suara yang lembut” Ananda apakah kami mampu merelakanmu untuk pergi” kata-kata itu yang sempat mematahkan dan menggoyahkan semangatku yang membara. dan ku yakinkan mereka”Ayahanda......Ibunda......jika hati kecil kalian tidak merelakanku untuk pergi meninggalkan kalian ku hargai hal itu. Jangan hanya untuk mementingkan masa depanku tetapi kalian ikut terjerumus, tersiksa dan ikut menderita dengan apa yang ku inginkan dan ku impikan selama ini. Walaupun susah kita akan selalu susah bersama, senangpun akan slalu demikian pula. Aku rela mengorbankan masa depanku demi Ayahanda dan Ibunda..

   Sehari sebelum menjelang keberangkatanku, mereka memanggilku dengan seruan yang lembut dan penuh semangat “ Ayahanda dan Ibunda ingin mengatakan sesuatu hal kepadamu , mungkin ini kabar bahagia untuk kami tapi bukan untukmu, karna kami tau apa yang sedang engkau gundakan dan khawatirkan jika ini kami katakan dan jika memang ini benar - benar terjadi dalam kehidupanmu

   Dalam hatikupun bertanya - tanya seraya menatap ke wajah ceria mereka, lalu aku lontarkan sepatah kata kepada orang yang aku muliakan sepanjang hayatku itu” Ayahanda....Ibunda ada kabar apa yang membuat wajah kalian menjadi berseri-seri seperti orang yang mendapatkan durian yang runtuh”, candapun aku lontarkan kepada mereka. Lalu mereka mangatakan hal yang tak pernah ku duga sebelumnya, walaupun pada saat itu kebahagiaan meliputi wajahku akan tetapi aku tidak dapat menyembunyikan kesedihanku pada saat itu karna tak dapat ku gambarkan dengan kata-kata apapun....

     

  Seraya mendekat ke hadapanku, dengan suara yang amat lembut mereka mengatakan “Ananda kamu dapat melanjutkan studimu dan meraih apa yang selama ini engkau impikan”, jantungku berdetak dengan kencang, darahku mengalir dengan begitu lancar, satu yang terlintas dalam pikiranku dan penatku pada saat itu” kekhawatiran dan rasa haru” karna aku tahu mereka melakukan ini demi aku demi masa depanku, terimasih Ayahanda....teima kasih Ibunda. Akan tetapi apakah aku bisa mengemban amanat tersebut apakah aku bisa memikul kepercayaan itu. Lalu ku tatap berkali-kali wajah keduanya yang denga senyumannya yang sangat khas dan kental akan keceriaan tersebut, hati ini menangis, hati ini menjerit pilu, aku tahu dan aku sadar bahwa mereka tidak mampu lagi untuk membiayai lagi studiku ke jenjang yang lebih tinggi lagi...tetapi karna tekatku yang begitu besar sehingga mereka berkorban dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka, memeras keringa mereka agar saya dapat melanjutkan studiku ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

   Malampun menyapa kediaman kami yanng sangat sederhana itu, saya duduk bersimpu bersama keluarga besarku, sekali - sekali ku lempar tatapanku ke arah wajah kedua idolaku seumur hidupku tersebut yaitu wajah-wajah yang akan ku tinggalkan kelak nantinya.

 

Tanpa aku sadari air matakupun ikut berurai merasakan kesedihanku malam itu, karna ku tak sanggup meninggalkan mereka. Lalu terdengar lantunan dan tepukan di pundak kananku, kata-kata itu sangat bersahaja ku dengar telingaku” Ananda jaga dirimu baik-baik, belajar dengan sungguh - sungguh buktikan bahwa kata- katamu yang engkau lontarkan bisa engkau wujudkan bukan hanya omongan belaka semata, dan wujudkan cita-citamu itu di kampung halamannya orang....air mataku semakin bercucuran deras dan tak dapat tertahan lagi, aku semakin terbawa dengan suasana di kediamanku pada malam itu....Kakakku tercintapun ikut mengambil bagian untuk memberiku semangat, dorongan, dan motifasi kepadaku agar aku dapat bertanggung jawab dengan apa yang telah di amanatkan oleh Ayahanda dan Ibundaku kepadaku sebelumnya.

   Semakin mereka memberiku semangat dan dorongan semakin aku tak sanggup meninggalkan mereka, lalu Kakakkupun memberiku suatu wejangan yang sangat bermakna dalam hidupku kelak di rantauan orang” Adikku hanya engkau adik laki-lakiku  satu-satunya hanya kamu harapan Ayahanda....Ibunda, Kakak dan harapan keluarga besar kita jadi kakak harap jangan kecewakan kami terutama Ayahanda dan Ibunda, semangat belajarmu adalah pemicu semangat kami pula untuk selalu mencari rizki yang walau harus membanting tulang siang dan malam walau napas terengah - engah. Mendengar kata-kata itu air mataku semakin lancar jatuh berderai, ku peluk erat-erat kakakku dan aku hanya bisa terdiam tanpa kata. Dan diapun mencoba menenangkanku seraya berkata” Adikku kuatkan hatimu, tegarkan imanmu, bulatkan tekatmu. Di mana adiknya kakak yang dulu tegar, di mana adikku yang dulu ceriah, di mana adikku yang dulu kuat, kakak percaya kepadamu adikku, lanjutkan lagi semangatmu, raih apa yang kamu ingin raih, gapai yang ingin kamu gapai, ini saatmu adikku......ini kesempatanmu kakak akan selalu berdoa untuk untuk keberhasilanmu adikku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami pula, sedihmu adalah cemeti buat kami semua, tetap semangat adikku doa kakak akan selalu menyertai perjalanan muliamu.

         

   Dengan wejangan inilah yang menjadikanku untuk semangat meraih apa yang selama ini ku impikan. Akan ku buat mereka bangga, akan ku ubah perkataan orang terhadap keluargaku...INGAT ITU....!!!!

   Pada suatu pagi tepatnya pada pukul 06.30 menjelang keberangkatanku menuju ke kota, merekapun turut menemani dalam setiap langkahku. Gelimangan air mata mereka pula turut menghantarkanku pergi meninggalkan keluarga besarku dan para teman - teman seperjuanganku. Sebelum menuju ke kapal mereka sempat memelukku,menciumku seakan - akan mereka tak ingin melepaskanku. Akan tetapi kuyakinkan semua keluargaku yang tercinta.....

  “Ananda pergi untuk kalian”

  “Ananda pergi untuk janji ananda yang pernah ananda ucapkan”

  “Ananda pergi untuk kita semua”

        

   Jadi ananda berharap relakan anada dengan hati yang ikhlas, relakan ananda untuk kebaikan. Lalu ku langkahkan kakiku menuju kapal dengan hati yang tidak rela melepaskan mereka, akan tetapi apa boleh buat hal ini harus terjadi padaku karna ini yang terbaik untukku dan untuk keluargaku kelak nanti. Anak demi anak ku tapaki tanggal kapal pandangan merekapun tak pernah melepaskanku, sesampainya di atas kapal terdengar seruan suara ibundaku tercinta yang sangat khas dan kental dengan suara kesedihannya” Ananda jaga dirimu baik-baik ibunda akan selalu merindukanmu....

  sirena kapalpun berbunyi pertanda kapal akan segera bertolak dari pelabuhan. Ku tatap ibundaku di dalam kerumunan orang banyak, dengan lambaiannya seraya bertolaknya kapal menghantarkanku pergi meninggalkan keluargaku dan ibundaku tercinta...

   Mulai dari saat itulah, ku bulatkan tekatku untuk bersungguh - sungguh di rantauan orang. Dan kata-kata merekalah yang membuatku tetap semangat menjalani hidup ini.

 

Moto

Akan kuhapus keringat  kedua orang tuaku dengan saputangan keberhasilanku

 

 

 

 

 

 

 

Karya : ibrahim zane

(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar