Selasa, 15 September 2020

 

ANAK RANTAU

Takkala fajar menyingsing

Air mataku slalu berderai

Takkala matahari terbit

Air mataku selalu berderai

    Di negeri orang ku coba bertahan

    Mengais sedikit belas kasihan

    Bertahan dengan sedikit iman

    Berharap gelap menjadi terang

Di sini telah ku tancapkan harapan

Telah aku tancapkan semuanya

Karna aku yakin, tak ada yang tak mungkin

Semua pasti bisa berubah

    Dengar.... dengarlah jeritanku

    Jeritan anak perantau

    Jeritan hati yang selalu jauh dari keluarga

    Ayah... bunda akan aku tepati janjiku

Akan tetapi.... ingat....

Jeritan itu akan jadi seruan

Akan jadi acuan semua orang

Takkala di hari depan

    Jangan memandang

    Jangan engkau melecehkan kami

    Kami sanggup berdiri...

    Kami masih sanggup berlari

Sepanjang mata memandang

Tak ada yang dapat ku jadikan pegangan

Hanya desiran dan deburan

Tenangnya lautan FLORES

TUNGGU AKU,... AKU PASTI KEMBALI

 

 

                                                               Karya; ibrahim zane

(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

 

 

 

“TEGAR”

Langakah demi langkah

Telah ku jalani

Tatih demi tatih

Telah aku lewati

    Bisakah aku seperi dia

    Akankah aku seperti dia

    Hanya keyakinan yang ada

    Dan tersisa pula keberania

Langkah ini, telah membawaku ke sebuah titik

Ku melangkah dengan pasti

Ku berjalan dengan keyakinan

Akan ada sebuah cahaya di kegelapan

    Lelah...lelah...lelah...

    Hanya kata yang menemaniku

    Hanya kata itu yang jadi tongkatku

    Tongkat keberhasilan

Tak ada yang bisa aku jadikan sandaran

Tak ada yang bisa ku jadikan acuan

Hanya mengikuti apa yang berbisik

Dan kedalaman bisikan qalbu

    Mentari tak dapat lagi aku jadikan teman

    Di kala malam...

    Bulan tak dapat lagi aku jadikan sobat

    Di kala siang...

Tekatku semakin tumbuh

Di kala aku dengar seruan hati

Yang tatkala aku dengar

Laluilah dengan ketabahan

                

                                                                    Karya; ibrahim zane

(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

 

 RESTUMU BUNDAKU

 

Aku pergi dengan tekatku

Tetapi aku dengar dengungan suara

Yang tak rela melepasku

Untuk melangkah lebih jauh

    Gelimangan air mata haru

    Menghantarkanku pergi

    Meninggalkan semua yang pernah aku miliki

    Menuju gemerlap dunia luar

Hati kecil ini pun berbisik

Engkau pergi untuk mereka

Engkau melangkah untuk mereka

Engkau berkorban untuk masa depan

    Seraya dengan menghilangnya bayangan itu

    Angin yang sepoi, membawa getaran

    Getaran sebuah nada dan lantunan yang lembut

    Yang tak dapat ku bendung dengan hatiku

Bayangan itu semakin kecil

Tetapi suara lantunan sebuah kata

Tetap mengiringiku menuju peraduanku

Yang selama ini yang aku impikan

    Bagai petir yang menyambar tanpa awan

    Kata itu membakar semangatku

    Menumbuhkan daya juangku

    Untuk terus melangka...melangkah

Hanya satu senjata yang di berikan

Hanya sebaris kalimat yang di berikan

Hanya sepotong ilmu yang di berikan kepadaku

Yang selalu aku jadikan pegangan hidup

    Ananda melangkahlah

    Melangkah lebih jauh

    Genggam mentari yang bersinar

    Gapai cita-citamu

Disini kami selalu ada untukmu

Doa restu kan selalu menyertaimu

Selamat jalan anada

Selamat jalan ananku tercinta           

                                                             

 

                                                               Karya; ibrahim zane

(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

 

 

 

Arti Kata Pergi

   Buat kalian semua, saya ucapkan beribu-ribu terima kasih atas doa, dukungan, motifasi. Karna tanpa kalian tanpa doa restu kalian aku tidak akan seperti ini,tidak akan berdiri sendiri di sini..sejak pertama ku ingin melangkahkan dan meninggalkan semuanya, kalian sempat berkata kepadaku dengan suara yang lembut” Ananda apakah kami mampu merelakanmu untuk pergi” kata-kata itu yang sempat mematahkan dan menggoyahkan semangatku yang membara. dan ku yakinkan mereka”Ayahanda......Ibunda......jika hati kecil kalian tidak merelakanku untuk pergi meninggalkan kalian ku hargai hal itu. Jangan hanya untuk mementingkan masa depanku tetapi kalian ikut terjerumus, tersiksa dan ikut menderita dengan apa yang ku inginkan dan ku impikan selama ini. Walaupun susah kita akan selalu susah bersama, senangpun akan slalu demikian pula. Aku rela mengorbankan masa depanku demi Ayahanda dan Ibunda..

   Sehari sebelum menjelang keberangkatanku, mereka memanggilku dengan seruan yang lembut dan penuh semangat “ Ayahanda dan Ibunda ingin mengatakan sesuatu hal kepadamu , mungkin ini kabar bahagia untuk kami tapi bukan untukmu, karna kami tau apa yang sedang engkau gundakan dan khawatirkan jika ini kami katakan dan jika memang ini benar - benar terjadi dalam kehidupanmu

   Dalam hatikupun bertanya - tanya seraya menatap ke wajah ceria mereka, lalu aku lontarkan sepatah kata kepada orang yang aku muliakan sepanjang hayatku itu” Ayahanda....Ibunda ada kabar apa yang membuat wajah kalian menjadi berseri-seri seperti orang yang mendapatkan durian yang runtuh”, candapun aku lontarkan kepada mereka. Lalu mereka mangatakan hal yang tak pernah ku duga sebelumnya, walaupun pada saat itu kebahagiaan meliputi wajahku akan tetapi aku tidak dapat menyembunyikan kesedihanku pada saat itu karna tak dapat ku gambarkan dengan kata-kata apapun....

     

  Seraya mendekat ke hadapanku, dengan suara yang amat lembut mereka mengatakan “Ananda kamu dapat melanjutkan studimu dan meraih apa yang selama ini engkau impikan”, jantungku berdetak dengan kencang, darahku mengalir dengan begitu lancar, satu yang terlintas dalam pikiranku dan penatku pada saat itu” kekhawatiran dan rasa haru” karna aku tahu mereka melakukan ini demi aku demi masa depanku, terimasih Ayahanda....teima kasih Ibunda. Akan tetapi apakah aku bisa mengemban amanat tersebut apakah aku bisa memikul kepercayaan itu. Lalu ku tatap berkali-kali wajah keduanya yang denga senyumannya yang sangat khas dan kental akan keceriaan tersebut, hati ini menangis, hati ini menjerit pilu, aku tahu dan aku sadar bahwa mereka tidak mampu lagi untuk membiayai lagi studiku ke jenjang yang lebih tinggi lagi...tetapi karna tekatku yang begitu besar sehingga mereka berkorban dan mengerahkan seluruh kemampuan mereka, memeras keringa mereka agar saya dapat melanjutkan studiku ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

   Malampun menyapa kediaman kami yanng sangat sederhana itu, saya duduk bersimpu bersama keluarga besarku, sekali - sekali ku lempar tatapanku ke arah wajah kedua idolaku seumur hidupku tersebut yaitu wajah-wajah yang akan ku tinggalkan kelak nantinya.

 

Tanpa aku sadari air matakupun ikut berurai merasakan kesedihanku malam itu, karna ku tak sanggup meninggalkan mereka. Lalu terdengar lantunan dan tepukan di pundak kananku, kata-kata itu sangat bersahaja ku dengar telingaku” Ananda jaga dirimu baik-baik, belajar dengan sungguh - sungguh buktikan bahwa kata- katamu yang engkau lontarkan bisa engkau wujudkan bukan hanya omongan belaka semata, dan wujudkan cita-citamu itu di kampung halamannya orang....air mataku semakin bercucuran deras dan tak dapat tertahan lagi, aku semakin terbawa dengan suasana di kediamanku pada malam itu....Kakakku tercintapun ikut mengambil bagian untuk memberiku semangat, dorongan, dan motifasi kepadaku agar aku dapat bertanggung jawab dengan apa yang telah di amanatkan oleh Ayahanda dan Ibundaku kepadaku sebelumnya.

   Semakin mereka memberiku semangat dan dorongan semakin aku tak sanggup meninggalkan mereka, lalu Kakakkupun memberiku suatu wejangan yang sangat bermakna dalam hidupku kelak di rantauan orang” Adikku hanya engkau adik laki-lakiku  satu-satunya hanya kamu harapan Ayahanda....Ibunda, Kakak dan harapan keluarga besar kita jadi kakak harap jangan kecewakan kami terutama Ayahanda dan Ibunda, semangat belajarmu adalah pemicu semangat kami pula untuk selalu mencari rizki yang walau harus membanting tulang siang dan malam walau napas terengah - engah. Mendengar kata-kata itu air mataku semakin lancar jatuh berderai, ku peluk erat-erat kakakku dan aku hanya bisa terdiam tanpa kata. Dan diapun mencoba menenangkanku seraya berkata” Adikku kuatkan hatimu, tegarkan imanmu, bulatkan tekatmu. Di mana adiknya kakak yang dulu tegar, di mana adikku yang dulu ceriah, di mana adikku yang dulu kuat, kakak percaya kepadamu adikku, lanjutkan lagi semangatmu, raih apa yang kamu ingin raih, gapai yang ingin kamu gapai, ini saatmu adikku......ini kesempatanmu kakak akan selalu berdoa untuk untuk keberhasilanmu adikku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami pula, sedihmu adalah cemeti buat kami semua, tetap semangat adikku doa kakak akan selalu menyertai perjalanan muliamu.

         

   Dengan wejangan inilah yang menjadikanku untuk semangat meraih apa yang selama ini ku impikan. Akan ku buat mereka bangga, akan ku ubah perkataan orang terhadap keluargaku...INGAT ITU....!!!!

   Pada suatu pagi tepatnya pada pukul 06.30 menjelang keberangkatanku menuju ke kota, merekapun turut menemani dalam setiap langkahku. Gelimangan air mata mereka pula turut menghantarkanku pergi meninggalkan keluarga besarku dan para teman - teman seperjuanganku. Sebelum menuju ke kapal mereka sempat memelukku,menciumku seakan - akan mereka tak ingin melepaskanku. Akan tetapi kuyakinkan semua keluargaku yang tercinta.....

  “Ananda pergi untuk kalian”

  “Ananda pergi untuk janji ananda yang pernah ananda ucapkan”

  “Ananda pergi untuk kita semua”

        

   Jadi ananda berharap relakan anada dengan hati yang ikhlas, relakan ananda untuk kebaikan. Lalu ku langkahkan kakiku menuju kapal dengan hati yang tidak rela melepaskan mereka, akan tetapi apa boleh buat hal ini harus terjadi padaku karna ini yang terbaik untukku dan untuk keluargaku kelak nanti. Anak demi anak ku tapaki tanggal kapal pandangan merekapun tak pernah melepaskanku, sesampainya di atas kapal terdengar seruan suara ibundaku tercinta yang sangat khas dan kental dengan suara kesedihannya” Ananda jaga dirimu baik-baik ibunda akan selalu merindukanmu....

  sirena kapalpun berbunyi pertanda kapal akan segera bertolak dari pelabuhan. Ku tatap ibundaku di dalam kerumunan orang banyak, dengan lambaiannya seraya bertolaknya kapal menghantarkanku pergi meninggalkan keluargaku dan ibundaku tercinta...

   Mulai dari saat itulah, ku bulatkan tekatku untuk bersungguh - sungguh di rantauan orang. Dan kata-kata merekalah yang membuatku tetap semangat menjalani hidup ini.

 

Moto

Akan kuhapus keringat  kedua orang tuaku dengan saputangan keberhasilanku

 

 

 

 

 

 

 

Karya : ibrahim zane

(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

Diatas titian jahannam

Dalam deru darah dan debar jantungku

Selalu terlintas nama  “Mulia-Mu”

Selalu terbayang “Kebesaran-Mu”

Selalu ku agungkan “Nama-Mu”

 

  Akan tetapi deruh darah dan debar jantung itu

  Telah berubah..!!!

  Menjadi deruh dan debar bisikan yang hitam

  Deru dan debar kemuliaan itu

  Telah musnah di telan hari-hariku

 

Wahai dunia......sadarkan aku.... sadarkan aku..

Dalam gelombang nadiku

Dalam desahan nafasku

Jahannam menantiku...

Jahannam menyertaiku...

Jahannam mengintaiku...

 

  Jangan biarkan aku terlarut

  Jangan biarkanku hanyut

  Dalam kesesatan dan kehitaman ini

  Ku ingin kembali

  Dari titian jahannam..

                                                              

                                                                Karya:Ibrahim Zane 

(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

 

Mutiara tertanam

Pandangan yang terhunus tajam

Seakan menukik.....

Menghancurleburkan kepenatan di hati

Tutur kata yang teramat bersahaja

Terhujam begitu tajam, begitu dalam

Terurai sebuah kata.....SEMPURNA

           

Terhujam sebuah kata sederhana

            Telah terjawab kegalauanku

            Cakrawala yang dahulu redup

            Kini telah bangkit

            Memunculkan secerca cahaya

            Di balik jeruji kepenatan

 

Pandangan yang terhunus tajam

Memberi makna...

Betapa anggunya kepribadianmu

Indah dipandang

Dalam kemurnian akhlakmu

           

Kupandang lagi dirimu

            Merenungkan segalanya

            Tiada cela-cela apapun

            Yang dapat ku cerca

            Hanya satu kata terlintas

            “SEMPURNA”

                                                              “Karya;ibrahim zane”

(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

                          

 

 

H.I.J.R.I

Ini adalah wujud dari air mata hatiku yang tak ku biarkan kering begitu saja

H.I.J.R.I

Hanya Ingin Jujurkan Rasa Ini

Sudah banyak ombak kita taklukan bersama

Susah payah aku payungi dirimu

Dari badai godaan orang yang inginkanmu

Dan sekian lama perahu ini bocor

Tapi, kemudian ku tambal dengan cinta tulusku

Dengar aku akan terus mendayung membawamu ke pulau itu

H.I.J.R.I

Harum Ikatan Janjimu Rasuki Ingatanku

Sebulan terakhir...

Kau lihat sabit sampai purnama

Kemudia berlalu sabit

Aku pikir perjalanan kita seperti itu mirip cahaya bulan

Bahkan ku pikir itu mirip ombak

Karna toh...mengapa cintamu mengikuti ombak

Padahal ombak setia pada pasang surutnya

H.I.J.R.I

Hening Ini Jadi Ranum Ilusi

Perjalanan kita sudah jauh

Mengapa kau ingin kembali kepada ketiadaan

Seperti sebelum kau mengenal senyumku

Tak ada alutan, tak ada daya

Tak ada mimpi, tak ada dirimu

Kau hanya ingin ciptakan suasana hati yang gelisah memikirkanmu

Dan itu ada padaku

Disini...di tengah-tengah nyawaku

H.I.J.R.I

Haluan Iringi Jangkauan Ruang Ingatanku

Kala itu sebelum kita sepakat untuk berlayar

Pernah sekali ku bayangkan kau berpindah perahu

Tapi aku berdoa, aku berdoa sayang

Agar selalu menemuimu tak seperti itu

H.I.J.R.I

Hentikan Itu, Jangan Runtuhkan Impianku

Harus bagaimana aku memikirkan ini

Ternyata doaku tak terkabulkan

Kau berpindah perahu, tapi ini aku percaya ini hanya sebuah permainan

H.I.J.R.I

Harap Ini Jadi Rahasia Indah

Memang sampai saat ini bersedih karena perjodohan

Tapi kamu tak usah takut sayang

Akan ku bangun dinding setinggi langit disekeliling cinta kita

Hingga ku pastikan tak ada yang menemukan diriku dan dirimu di dalam sana

Berdua kita disana...ya...berdua

Ahh...kamu pasti kembali

Walau perahu ini bocor

Tak ada yang menandingi imbotan hatiku

Nyata dan bukan tipuan mata

Kamu pasti kembali

H.I.J.R.I

Hempaskan Impian Jadikan Rona Indah

Aku cukup menangis tanpa air mata

Mengiringi kebahagiaanmu agar dapat melepaskan rasa sakit ini

Dan kau jadikan kenanganku

Dan jika benar ini adalah takdir dari kehidupan

Aku akan ikhlas melepasmu demi kebahagiaanmu

Ikhlas melepasmu untuk dimilikinya

Tapi sunggu aku masih ragu

Karna aku belum pernah sekalipun mengucapkan kata menyerah

Kumohon satu doa untukmu

Sisipkanlah kenangan yang telah kuberikan untukmu

Tepat dihati yang belum pernah terjamah

Karena hanya itu yang dapat meyakinkanku

Percayalah... aku akan tetap ada bila kau butuh

Dan aku akan selalu merindukanmu, walau kau tak merindukanku

H.I.J.R.I

Harapanku Ini Jadi Ruang Inspirasi

Ingatlah aku disaat kau bahagia

Walaupun itu hanya sebatas mimpi

Kabari aku disaat kau sedih

Karena hati ini ingin mengobati kesedihanmu

Sampai senyummu indah kemabli

Seperti senyummu diawal kisah kita

H.I.J.R.I

Hembuskanlah Ikrarmu, Janjimu, Rasamu Ikhlasmu

Betul kata sahabatku...

Jika mawar tak mampu tumbuh dalam hatimu entah hatiku

Maka biarkanlah tumbuh dihalaman

Kelak jenuh mengunjungimu

Cukup memetik bunganya

Simpankan durinya untukku sayang

Dan jika masih ada waktu

Biarkanlah ku pergi untuk kembali

H.I.J.R.I

Haruskah Ini Jadi Rasa Indahku

Ruang Inspirasi...

 

 

Minggu, 17 November 2019

SINAR IKATAN HATI


SINAR IKATAN HATI
Basah mataku, bukan tergambar kesedihan
Berbinar mataku, bukan tergambar ranumny hati
Berkabun hati, bukan tersayatnya diri
Namun engaku telah melempar hinaikatan itu
Berkabun, mendera basah…lalu bersikut miris
Seakan bukan salah kita, tapi salahku
Pada satu masa kelopakmini akan menjadi kelompak
Yang terasingkan dari simpul-simpul hati kita
Tertunduk lesu bukan akun tak kuasa
Tertunduk malu, karena ragamu terpisah dari ikatan itu
Ikatan yang dulu aku serta kita semua
Dengan susah payahnya dengan segala kemampuan
Kita rajut rapi serta kita tata indah
Ukuwah saompu dahulu…
Mari…mari, daku mengajak
Dengan bangga diriku pada kalian
Kutitipkan segalanya pada pundak-pundak kalian
Jagalah…rawatlah serta semai pada hati-hati kalian
Bahwa senar hati kita takkan semudah itu rapuh dan lapuk
Hanya dengan hitungan jemari saja
Berikan bukti pada kami semua
Senar ikatan hati akan menjadi simpul yang kokoh
Dan takkan selamanya rapuh
Wahai saudaraku setubuh
Dia membutuhkan kita
Membutuhkan kita yang telah lupa
Jauh, pergi, berlari serta lenyap ditelan fatamorgana asing
Tanpa mengucapkan sebait katapun, untuk mengahantrkan ia pada titik puncaknya
Apakah kita telah pikun sejenak
Ataukah telah lupa selama-lamanya
Dahulu engakau telah berikrar di depanku
Hidup matiku segalanya untuknya
Jiwa ragaku ku gadaikna untuknya
Seketika bergelombang nadiku
Bahwa ada harapan di tengah-tengah sana
Sekalipun harapan itu masih berupa titik noda
Yang sewaktu-waktu akan merambat besar…besar dan besar
Dan menjadi sesuatu yang dibanggakan
Akan tetapi…
Jangan lupa saudaraku
Angina takkan pernah bertiup searah dengan hatimu
Dia sewaktu-waktu dapat berbalik
Melawan, menyerang, bersekutu lalu tertawa karena atas kerapuhan kita
Yang tak kuasa membentengi diri
Lalu dengan sinisnya serta angkuhnya
Sengaja tak sengaja kita bertutur kata
Ah…ini hanya sementara
Wahai engkau yang dikandungnya
Dimana kalian semau
Dimanakah ikrarmu dahulu
Aku mengiginkan itu
Tunjukkan di hadapanku bahwa engaku mampu berkorban
Bahwa engaku bukanlah pengecut
Yang hanya bermanis dalam kubangan liarmu
Yang hanya dapat bersolek ria
Sekali-kali cekikikan sinis, menapat hasil burukmu
Berikan yang seharusnya engaku berikan
Aku tak pernah meminta hal besar
Cukup jagalah, senar ikatan hati saompu
Itulah nafasku, itulah nadi yang takkan pernah berhenti berdetak
Fokmasku akan merintih, jikalau kalian dan kita semua merintih
Dia akan layu, jika senar ikatan hati saompu tidak engaku pupuk
Dia akan berdiri tegak menjulang tinggi
Setinggi yang tak pernah terlintas sebelumnya
Saudaraku…
Mari kita semai saompu kita dahulu
Dengan satu harapan senar ikatan hati dapat kita semai
Lalu mekar, segar untuk selama-lamanya
Fokmasku aku mencintaimu
Bukan dengan cinta yang semu semata
Cintaku kekal
Seperti kekalnya janji sang fajar
Aku mencintaimu
Aku mencintaimu

Aku mencintaimu
Aku mencintaimu
Lelaplah tertidur dengan bangga
Wahai engkau senar ikatan hati
Jangan pernah terjaga, lalu pergi meninggalkanku
Fokmas bukti nyata telah berbicara padamu
Ketulusan telah menyapamu
Inilah aku…inilah jalanku
Kami siap berdarah untukmu
Demi kehormatanmu, jangan pernah terjaga
Senar ikatan hati saompu kan tetap utuh
Karya : Iebe Saompu Ais

SAHABAT


SAHABAT
Ku hanya berjalan sendiri
Hanya dapat berpegang padamu
Hanya dapat mengeluh padamu
Hanya dapat menjerit padamu
Engaku mejadi penuntunku
Dalam baik buruknya dan manis pahitnya hidup
Hanya kata-kata yang dapat terucap
Dalam sedihku, engaku selalu ada
Dalam rintihku, engaku mendapingiku
Walau terkadang aku melemparkan kata-kata
Yang menyakiti hatimu
Terima kasih teman !
Terima kasih sobat !
Tanpa engkau aku apa- apa
Tanpa engaku aku  bukan siapa-siapa
Entah kapan dan dimana
Ku dapat membalas jasamu
Yang setara dan setimpal
Dengan apa yang kamu lakukan
Engkau penasihat terbaikku
Engaku keluarga terbaikku
Engakau tumpangan di negeri orang
Engaku sahabat-sahabat terbaikku
Karya : Iebe Saompu Ais

REMBULAN MATA IBU


REMBULAN MATA IBU

Sebercak cahaya kelopakmu
Penawar lara di dada
Duhai kesejukan hidup
Rembulan yang melebihi sang  rembulan
Hamparan gurun hijau
Tak dapat menandingi mata ibu
Lantunan doa-doa mustajab
Goyahkan segala kelopak mata
Izinkan aku menjadi jemarimu
Yang akan selalu siap menerima apa yang engkau terima
Izinkan aku menjadi lidahmu yang  akan selalu lentik memohon kepadanya
Wahai rembulan mata ibu
Kusujudkan ragaku sepenuhnya kepadamu
Raga melayang  enggan aku mengeluh
Biarlah menjadi pengabdian sejatiku untukmu
Rembulan mata ibu
Tak pernah redup
Melihat celah-celah hati anakmu
Menjaga setiap lekuk tubuhmu dari tajamnya dunia hina
Karya : Iebe Saompu Ais