Minggu, 17 November 2019

SINAR IKATAN HATI


SINAR IKATAN HATI
Basah mataku, bukan tergambar kesedihan
Berbinar mataku, bukan tergambar ranumny hati
Berkabun hati, bukan tersayatnya diri
Namun engaku telah melempar hinaikatan itu
Berkabun, mendera basah…lalu bersikut miris
Seakan bukan salah kita, tapi salahku
Pada satu masa kelopakmini akan menjadi kelompak
Yang terasingkan dari simpul-simpul hati kita
Tertunduk lesu bukan akun tak kuasa
Tertunduk malu, karena ragamu terpisah dari ikatan itu
Ikatan yang dulu aku serta kita semua
Dengan susah payahnya dengan segala kemampuan
Kita rajut rapi serta kita tata indah
Ukuwah saompu dahulu…
Mari…mari, daku mengajak
Dengan bangga diriku pada kalian
Kutitipkan segalanya pada pundak-pundak kalian
Jagalah…rawatlah serta semai pada hati-hati kalian
Bahwa senar hati kita takkan semudah itu rapuh dan lapuk
Hanya dengan hitungan jemari saja
Berikan bukti pada kami semua
Senar ikatan hati akan menjadi simpul yang kokoh
Dan takkan selamanya rapuh
Wahai saudaraku setubuh
Dia membutuhkan kita
Membutuhkan kita yang telah lupa
Jauh, pergi, berlari serta lenyap ditelan fatamorgana asing
Tanpa mengucapkan sebait katapun, untuk mengahantrkan ia pada titik puncaknya
Apakah kita telah pikun sejenak
Ataukah telah lupa selama-lamanya
Dahulu engakau telah berikrar di depanku
Hidup matiku segalanya untuknya
Jiwa ragaku ku gadaikna untuknya
Seketika bergelombang nadiku
Bahwa ada harapan di tengah-tengah sana
Sekalipun harapan itu masih berupa titik noda
Yang sewaktu-waktu akan merambat besar…besar dan besar
Dan menjadi sesuatu yang dibanggakan
Akan tetapi…
Jangan lupa saudaraku
Angina takkan pernah bertiup searah dengan hatimu
Dia sewaktu-waktu dapat berbalik
Melawan, menyerang, bersekutu lalu tertawa karena atas kerapuhan kita
Yang tak kuasa membentengi diri
Lalu dengan sinisnya serta angkuhnya
Sengaja tak sengaja kita bertutur kata
Ah…ini hanya sementara
Wahai engkau yang dikandungnya
Dimana kalian semau
Dimanakah ikrarmu dahulu
Aku mengiginkan itu
Tunjukkan di hadapanku bahwa engaku mampu berkorban
Bahwa engaku bukanlah pengecut
Yang hanya bermanis dalam kubangan liarmu
Yang hanya dapat bersolek ria
Sekali-kali cekikikan sinis, menapat hasil burukmu
Berikan yang seharusnya engaku berikan
Aku tak pernah meminta hal besar
Cukup jagalah, senar ikatan hati saompu
Itulah nafasku, itulah nadi yang takkan pernah berhenti berdetak
Fokmasku akan merintih, jikalau kalian dan kita semua merintih
Dia akan layu, jika senar ikatan hati saompu tidak engaku pupuk
Dia akan berdiri tegak menjulang tinggi
Setinggi yang tak pernah terlintas sebelumnya
Saudaraku…
Mari kita semai saompu kita dahulu
Dengan satu harapan senar ikatan hati dapat kita semai
Lalu mekar, segar untuk selama-lamanya
Fokmasku aku mencintaimu
Bukan dengan cinta yang semu semata
Cintaku kekal
Seperti kekalnya janji sang fajar
Aku mencintaimu
Aku mencintaimu

Aku mencintaimu
Aku mencintaimu
Lelaplah tertidur dengan bangga
Wahai engkau senar ikatan hati
Jangan pernah terjaga, lalu pergi meninggalkanku
Fokmas bukti nyata telah berbicara padamu
Ketulusan telah menyapamu
Inilah aku…inilah jalanku
Kami siap berdarah untukmu
Demi kehormatanmu, jangan pernah terjaga
Senar ikatan hati saompu kan tetap utuh
Karya : Iebe Saompu Ais

Tidak ada komentar:

Posting Komentar