Minggu, 17 November 2019

SINAR IKATAN HATI


SINAR IKATAN HATI
Basah mataku, bukan tergambar kesedihan
Berbinar mataku, bukan tergambar ranumny hati
Berkabun hati, bukan tersayatnya diri
Namun engaku telah melempar hinaikatan itu
Berkabun, mendera basah…lalu bersikut miris
Seakan bukan salah kita, tapi salahku
Pada satu masa kelopakmini akan menjadi kelompak
Yang terasingkan dari simpul-simpul hati kita
Tertunduk lesu bukan akun tak kuasa
Tertunduk malu, karena ragamu terpisah dari ikatan itu
Ikatan yang dulu aku serta kita semua
Dengan susah payahnya dengan segala kemampuan
Kita rajut rapi serta kita tata indah
Ukuwah saompu dahulu…
Mari…mari, daku mengajak
Dengan bangga diriku pada kalian
Kutitipkan segalanya pada pundak-pundak kalian
Jagalah…rawatlah serta semai pada hati-hati kalian
Bahwa senar hati kita takkan semudah itu rapuh dan lapuk
Hanya dengan hitungan jemari saja
Berikan bukti pada kami semua
Senar ikatan hati akan menjadi simpul yang kokoh
Dan takkan selamanya rapuh
Wahai saudaraku setubuh
Dia membutuhkan kita
Membutuhkan kita yang telah lupa
Jauh, pergi, berlari serta lenyap ditelan fatamorgana asing
Tanpa mengucapkan sebait katapun, untuk mengahantrkan ia pada titik puncaknya
Apakah kita telah pikun sejenak
Ataukah telah lupa selama-lamanya
Dahulu engakau telah berikrar di depanku
Hidup matiku segalanya untuknya
Jiwa ragaku ku gadaikna untuknya
Seketika bergelombang nadiku
Bahwa ada harapan di tengah-tengah sana
Sekalipun harapan itu masih berupa titik noda
Yang sewaktu-waktu akan merambat besar…besar dan besar
Dan menjadi sesuatu yang dibanggakan
Akan tetapi…
Jangan lupa saudaraku
Angina takkan pernah bertiup searah dengan hatimu
Dia sewaktu-waktu dapat berbalik
Melawan, menyerang, bersekutu lalu tertawa karena atas kerapuhan kita
Yang tak kuasa membentengi diri
Lalu dengan sinisnya serta angkuhnya
Sengaja tak sengaja kita bertutur kata
Ah…ini hanya sementara
Wahai engkau yang dikandungnya
Dimana kalian semau
Dimanakah ikrarmu dahulu
Aku mengiginkan itu
Tunjukkan di hadapanku bahwa engaku mampu berkorban
Bahwa engaku bukanlah pengecut
Yang hanya bermanis dalam kubangan liarmu
Yang hanya dapat bersolek ria
Sekali-kali cekikikan sinis, menapat hasil burukmu
Berikan yang seharusnya engaku berikan
Aku tak pernah meminta hal besar
Cukup jagalah, senar ikatan hati saompu
Itulah nafasku, itulah nadi yang takkan pernah berhenti berdetak
Fokmasku akan merintih, jikalau kalian dan kita semua merintih
Dia akan layu, jika senar ikatan hati saompu tidak engaku pupuk
Dia akan berdiri tegak menjulang tinggi
Setinggi yang tak pernah terlintas sebelumnya
Saudaraku…
Mari kita semai saompu kita dahulu
Dengan satu harapan senar ikatan hati dapat kita semai
Lalu mekar, segar untuk selama-lamanya
Fokmasku aku mencintaimu
Bukan dengan cinta yang semu semata
Cintaku kekal
Seperti kekalnya janji sang fajar
Aku mencintaimu
Aku mencintaimu

Aku mencintaimu
Aku mencintaimu
Lelaplah tertidur dengan bangga
Wahai engkau senar ikatan hati
Jangan pernah terjaga, lalu pergi meninggalkanku
Fokmas bukti nyata telah berbicara padamu
Ketulusan telah menyapamu
Inilah aku…inilah jalanku
Kami siap berdarah untukmu
Demi kehormatanmu, jangan pernah terjaga
Senar ikatan hati saompu kan tetap utuh
Karya : Iebe Saompu Ais

SAHABAT


SAHABAT
Ku hanya berjalan sendiri
Hanya dapat berpegang padamu
Hanya dapat mengeluh padamu
Hanya dapat menjerit padamu
Engaku mejadi penuntunku
Dalam baik buruknya dan manis pahitnya hidup
Hanya kata-kata yang dapat terucap
Dalam sedihku, engaku selalu ada
Dalam rintihku, engaku mendapingiku
Walau terkadang aku melemparkan kata-kata
Yang menyakiti hatimu
Terima kasih teman !
Terima kasih sobat !
Tanpa engkau aku apa- apa
Tanpa engaku aku  bukan siapa-siapa
Entah kapan dan dimana
Ku dapat membalas jasamu
Yang setara dan setimpal
Dengan apa yang kamu lakukan
Engkau penasihat terbaikku
Engaku keluarga terbaikku
Engakau tumpangan di negeri orang
Engaku sahabat-sahabat terbaikku
Karya : Iebe Saompu Ais

REMBULAN MATA IBU


REMBULAN MATA IBU

Sebercak cahaya kelopakmu
Penawar lara di dada
Duhai kesejukan hidup
Rembulan yang melebihi sang  rembulan
Hamparan gurun hijau
Tak dapat menandingi mata ibu
Lantunan doa-doa mustajab
Goyahkan segala kelopak mata
Izinkan aku menjadi jemarimu
Yang akan selalu siap menerima apa yang engkau terima
Izinkan aku menjadi lidahmu yang  akan selalu lentik memohon kepadanya
Wahai rembulan mata ibu
Kusujudkan ragaku sepenuhnya kepadamu
Raga melayang  enggan aku mengeluh
Biarlah menjadi pengabdian sejatiku untukmu
Rembulan mata ibu
Tak pernah redup
Melihat celah-celah hati anakmu
Menjaga setiap lekuk tubuhmu dari tajamnya dunia hina
Karya : Iebe Saompu Ais

Negeri Serdadu


Negeri Serdadu
Lantang menyapa kami
Dengan sejuta harapan
Yang penuh dengan kebohongan
Lantang menyapa kami
Dengan sejuta royal
Dengan kebohongan yang kekal
Ya…sedikit berbohong
Demi menggapai tujuan
Merupakan hal yang lumrah
Untuk mereka yang berdasi licin
Berbohong, berjanji…
Itu sarapan wajib bagi mereka
Serta membiarkan lidah-lidah kami
Terhenti kaku lemah tak berdaya
Itukah tujuan orasimu
Itukah tujuan hidupmu
Wahai yang bedasi licin, bersepatu mahal
Tanggung jawabmu kini terhadap kami
Telah menjadi sampah-sampah
Yang beterbangan tak tentu arah
Lepas, berlari, terpental, terhempas
Hancur di tangan-tangan para pecundang negeri serdadu
Ya… negeri serdadu
Benar, apa yang kamu katakana kawan
Yang punya kuasa maka dia kuat
Yang punya pengaruh,maka dialah wakil tuhan di bumi ini
Ya…bumi negeri serdadu
Negeri yang menjadikan rakyatnya menjadi malaikat-malaikat tak bersayap
Serta negeri yang menyulap hidup, para rakyatnya hidup enggan matipun tak mahu
Lalu dimana rimbanya
Yang dahulu dating di hadapan kita duduk bersimpuh,rapih,bersih,tersipuh ramah
Apakah dia tengah berjuang ?
Ya… berjuang…berjuang…
Alahhh…berjuang
Jangan pernah menghayalkan
Sesuatu yang mustahil kawan
Mentari telah ia genggam, maka jangan pernah berharap
Mentari itu adalah aku, kamu, kita dan kalian
Mereka telah menghadiahkan sebuah tanda Tanya besar
Hidup demokrasi…
Hidup demokrasi…
Hidup demokrasi…
Hahaha…demokrasi…demokrasi…
Demokrasi itu hanyalah,mimpi-mimpi orang yang memiliki mimpi
Mimpi-mimpi manusia yang akan menjadi penjajah di negeri sendiri
Tunas-tunas bangsa kita
Telah diubah menjadi serdadu
yang tak punya nyali, kecil dan kerdil seperti kutil yang tak berharga
pemimpin bangsa kita
takkan pernah lelah
menjadikan kita yang lemah ini
menjadi serdadu-serdadu siap tempur
demi kepentingan para pecundang
Hidup demokrasi…
Hidup demokrasi…
Hidup demokrasi…
Sampai mati demokrasi
Ya… hidup demokrasi
Inilah hasil sulap demokrasi itu
Demokrasi yang aabal-abal, asal jadi
Demokrasi yang memotong aspirasi kami
Dan jalan terakhir adalah jalan yang paling mulia
Korupsi…kolusi… dan nepotisme berjalan
Inikah demokrasi yang kita dambakan
Inikah demokrasi yang sesugguhnya
Tidak kawan…tidak, ini bukan demokrasi
Setahuku demorasi itu bebas,lepas dan luwes
Kita telah tertipu mentah-mentah
Demokrasi ini adalah demokrasi hasil ciptaan penguasa negeri serdadu
Yang mengutamakan kepentingan di atas kepentingan
Bangkit kawan..kita lawan, kita ganyang…
Penjajah dapat kita cungkil dari bumi pertiwi
Kini bangsa kita sendiri yang akan akal kita cungkil dari buminya sendiri
Wahai penguasa negeri serdadu
Mulailah bertanya kemana tempat peraduanmu
Kami takkan pernah membiarkan
Lengan dan bahumu bersolek manja
Di atas tahta kami
Sekali bergerak bumi akan tergucang
Wahai penguasa negeri serdadu
Kembalikan tahtamu kepada penguasa sebelumnya
Enyahlah dari bumi pertiwi ini

Karya : Iebe Saompu Ais





    Perahu Seberang

Naskah  : Aliul Abdullah

SinopSis
Kepercayaan adalah simbol sebuah rasa cinta, tanpa sebuah kepercayaan cinta ibarat pohon tumbang di tengah gurun. Pada hakikatnya manusia di karuniai sebuah rasa dan sepotong cinta, tanpanya hidup manusia tidaklah  layak disebut hidup, Ujung lidah adalah pemantik bara api,sekali terbakar kita akan kekal didalamnya..
Resah kadang menjadi tombak yang akan hancurkan keyakinan,
Manusia bergumul amarah dan rasa tak percaya,
Diceritakan dalam kisah,jubba  mengalami peristiwa pahit dalam hidupnya,kemudian tersesat didalam mimpi,melihat kejadian-kejadian yang berantai dan saling terikat,

Pelakon :
Jubba
Nenek Tua
Tanre Ria’ ka’
Addaraeng
Malewa
Sabbe
La makka
Marannu
La nu’mang
Awak kapal
Figuran
Opening
Seorang anak anak lelaki memakai pakaian anak perempuan diatas panggung tengah bermain dengan properti kotak yang mengisi hampir keseluruhan arena,dibolak balik, disejajarkan hingga membentuk dende bulan dan bermain seperti anak kecil kebanyakan disorot lighting dan kemudian menunjukkan ekspresi  sedang kebingungan melihat pakaian yang dikenakannya..
Hei Tuhan,,aku masih labil..aku belum siap..aku senang dengan masa kecilku..aku tak ingin menjadi dewasa..
“Datang dua orang wanita dengan riasan wajah sangat putih tertawa dan berbisik-bisik..”
Breng  de sek...brengsek...jing de jing...anjing..to de lo..tolo..(out stage)
Kenapa??ada apa??apa masalah kalian??dasar manusia penghuni negeri sampah..kenapa orang-orang dinegeri ini selalu saja ingin tahu masalah orang lain..menceritakan aib seseorang dengan gembira dan tanpa rasa bersalah.. gelandangan tak berpendidikan..atau jangan-jangan mulut mereka memang tidak bersekolah...dasar laknat..keparat...
“datang seseorang yang sepertinya tengah mencari temannya”
Pemisi...
Iya..ada apa??(membentak)
Saya,,mencari  teman saya yang baru saja lewat disini..????
Dua orang??
Tidak..tidak..
Perempuan??
Tidak..tidak..
Laki-laki..???(suasana pertanyaan terdengar semakin genting)
Ya..ya..
Tinggi..??besar??berbulu??
Ya..ya..ya...
Bertanduk??
Ya..ya..
“merasa dibodohi akhirnya jubba’ memberikan “Dusttt” beberapa kali pada lelaki tadi dan dibalas lelaki itu dengan suara “ouchh” kemudian keluar arena..
Kenapa orang –orang sekarang semakin bodoh saja??antara bodoh dungu kini sudah benar-benar tak mampu lagi dibedakan..Yang pandai menjadi dungu,sedang yang dungu bertambah dungu..
“terdengar suara seseorang memanggil..beberapa kali dan menggema..
Jubba’..Jubba’..Jubba’..
Apakah itu kau Tuhan??
Bukan..
Lalu kau siapa??
Aku adalah kau dan kau adalah aku..
Siapa??aku siapa dirimu yang mengaku sebagai aku? “jubba’ kemudian out stage,(lampu remang kemudian perlahan menjadi gelap..)
Dari luar arena pertunjukan muncul seorang nenek tua membawa “ lampu sulo “ ( lampu tua yang digunakan oleh orang-orang dahulu untuk penerangan ) seperti mencari seseorang,kemudian memanggil –manggil “

Adegan I
jubba..jubba...( tak ada sahutan )Apakah kalian melihat cucuku??( bertanya kepada penonton )
Aduh..cucuku itu,semakin dewasa semakin menyusahkan saja..Jubba...jubba ( kembali memanggil )
(on stage )
Mungkin karena usianya sudah dewasa sehingga lupa bahwa ia masih memiliki nenek tua yang sudah berbau tanah.. (duduk disebuah kursi) Padahal aku hanya ingin bercerita dengan cucuku,,Akhir-akhir ini dia seperti melupakan aku..dia tidak peduli lagi denganku..apakah benar aku sudah terlalu tua untuk diajak bercerita??
Aku masih bisa makan sendiri,membersihkan tubuh sendiri,dan aku masih bisa mengurus diri dengan baik..Apa aku benar sudah teramat tua?
(on stage)
Jubba
Nenek ,,(memanggil)
Nenek
Jubba  kamu sudah sangat  keterlaluan,dari tadi nenek mencarimu kemana-mana,,
Sungguh malang nasibku,tidak dihiraukan oleh siapa-siapa,,mungkin sebentar lagi tak ada yang akan mengingatku,,
Aku merasa kesepian,
Ingin bercerita tapi tak tahu harus bercerita dengan siapa..padahal nenek punya cerita yang sangat bagus..
Apa kau ingin mendengarkan cerita dari nenek?
“jubba tidur dipangkuan neneknya dan dibelainya mesra..”
Baiklah..akan kuceritakan sebuah cerita...
Ini tentang perahu seberang,
Sebuah cerita Tentang kesetiaan,kepercayaan juga pengorbanan yang tak mampu ditukar oleh waktu,,
cerita ini selalu saja mengingatkanku pada seseorang ketika segalanya masih nyata..
Disebuah negeri  mashyur,ada seorang pemuda bernama Tanre ria’ ka’ ,dia mempunyai seorang istri yang sangat setia,tulus dan baik hati bernama Addaraeng,
cinta mengelepak bagai sepasang merpati yang hendak pulang kesarang,,Tapi terkadang gelap seringkali datang dengan rias kesombongan membutakan mata hati siapa saja..
Ketika itu...( tiba-tiba segerombolan orang-orang memasuki arena pertunjukan sambil membawa properti dan berseru )
Para awak kapal
Kapal akan berangkat..
Kapten kapal
Hei kalian..cepat kapal sudah mau berangkat,,angkat semua barang-barang itu!!
Para awak kapal
Siap puang (serentak)
Kapten kapal
Tanre...Tanre....Tanre....Mana Tanre??
Awak kapal
Sepertinya masih didermaga puang,
Kapten kapal
Apa??cepat panggil dia!!!kapal ini sebentar lagi akan berangkat!!kita tidak mungkin berlayar tanpa seorang nakhoda dan penunjuk arah, (out Stage)
Awak kapal
Baik puang..(Stay)
(on stage )
Tanre
Istriku  Addaraeng..sudah saatnya aku  pergi,
Addaraeng
Ie’ daeng,
                                                                                Tanre
Mengapa  kau terlihat risau ??bukankah aku telah berjanji akan kembali..seperti para leluhur kita yang gagah berani mengarungi lautan lepas dan pulang dengan kepala tegak untuk menemui orang-orang yang mencintainya..
Addaraeng
Bukan daeng..bukan ganasnya lautan yang membuatku takut melepasmu,ataupun derasnya hantaman badai yang akan menghempas karam kapalmu,tapi aku takut,Takut jika saja kelak daeng kembali dengan hati redup karena terbiasa akan ketidak-hadiranku,
Tanre
Jangan menyimpan risau dalam hati  Addaraeng..
Risau adalah benih dari retaknya rasa yang telah kita dekap teguh,
Percayalah ..hati ini tidak  mungkin di isi perempuan lain,,karena setiap ruang hambar dihati daeng telah penuh dengan namamu Addaraeng..
Addaraeng
Ie’ daeng..aku akan menjaga kesetiaanku,akan selalu menunggu hingga daeng benar-benar kembali..
Dan  kepulangan daeng kelak tentunya akan menjadi hadiah paling istimewa untukku..
(on stage )
Awak kapal
Tabe’ puangku,kapal sudah siap untuk berlayar..
Tanre
Kalau begitu..Aku pergi dulu addaraeng’..
Addaraeng
Hati-hati daeng..!!!
terdengar suara kapal yang mulai berlayar disambut suara-suara para awak kapal

 ( On stage )
sabbe dan beberapa orang pengawalnya
Sabbe
Kalian Lihat???...Akhirnya yang pergi telah benar-benar pergi..meninggalkan kesunyian pada sepi yang berkepanjangan..
Addaraeng
Apa maksud perkataanmu itu sabbe’??
Sabbe
Puangku Tanre Ria’ ka’  pergi berlayar,kemudian akan berlabuh didermaga para bidadari surga sekedar untuk melepas dahaga setelah lelah berlayar dilautan kering tanpa kasih sayang..
Addaraeng
Apa yang kau fikirkan tentang suamiku itu teramat salah,
Daeng Tanre  bukan manusia dengan iman dan cinta yang serakah sepertimu sabbe..
Kami telah melalui segala getir  juga sesak yang tak kau miliki,,jadi tutup mulut bejatmu itu!!!
Sabbe
Sungguh perkataan yang sangat santun dari istri seorang nakhoda terkenal dengan ketangguhannya menaklukkan ombak dilautan lepas..seorang pejuang yang menuntun nyiur tumbuh berkembang dipesisir pantai minasa..
Sayangnya puangku Tanre Ria’ ka’  mungkin lupa untuk mengajari istrinya Tutur bahasa yang akan menghindarkannya terluka bila tak berhati-hati menjaga lidah..
Addaraeng
Terkadang aku selalu melantunkan tanya pada Tuhanku,,,sesungguhnya niatan apa yang membuatnya menciptakan manusia picik sepertimu sabbe,,manusia serakah yang seenaknya memutar lidah dan tak pernah mau tahu penderitaan orang lain..
Apa yang kuucapkan tadi kufikir pantas untukmu..
Sabbe
Tetaplah pada keyakinanmu Addaraeng!!sebab risau itu nyata adanya,kau tak akan pernah mampu melepas rasa curiga kala sepotong hati yang kau jaga tengah jauh mengembara..(tertawa)
(out stage”)
Addaraeng
Akhirnya sepi mendekat padaku,,sebab purnama telah berlalu dan meninggalkan sepucuk benih disini..ya..benih penantian akan kekasih..kuharap engkau yang maha kuasa berkenang menjaganya disana..menjaga dalam kesetiaan,sama dengan engkau menjaga kesetiaanku..(out stage)
tiba-tiba orang berdatangan membicarakan kabar tentang hilangnya kapal yang diperbincangkan,,beberapa orang  menjajakan jualannya..bercerita panjang lebar satu sama lain..(Stay)
La makka
Apa kau sudah dengar??berita tentang hamilnya Addaraeng istri puangku Tanre Ria’ ka’??
marannu
Apa dia hamil??tapi bukankah suaminya sudah hampir setahun ini tak pernah kembali??
La makka
Iya..bahkan yang kudengar kapal puangku karam disebuah pulau setelah dihantam badai..
marannu
Lalu,,??anak yang dikandung Addaraeng anak siapa??
(saling berbisik-bisik)
La nu’mang
Kalian ini benar-benar manusia kurang kerjaan,,menceritakan kekurangan orang lain secara berjamaah..pantas saja kalian betah menjadi orang yang serba kekurangan..sekarang bubar kalian..!!!Ayo bubar ...!!! (out stage)
 ( on stage )
Addaraeng  berjalan ketengah panggung dengan kondisi berbadan dua“
Malewa
Apa kondisimu sudah membaik daeng??
Addaraeng
Sudah hampir sembilan bulan sejak kepergian suamiku,tapi sampai sekarang tak juga kudapati kabar tentang keberadaannya disana..
Malewa
 setelah kabar tentang karamnya kapal daengku Tanre berhembus,berita itu membuat risih amma juga puangku dirumah besar..dan entah bagaimana kabar daengku disana..kita hanya bisa menunggu,menunggu sekalipun tak ada jawaban pasti akan tanya yang kian membara,,
Addaraeng
Wahai engkau sang pencipta,
jika benar takdir anakku lahir tanpa melihat ayahnya maka segala kepasrahanku akan kutumpahkan padamu,
Namun jika ini bukanlah sebuah pertanda buruk maka kumohon berilah ia jalan untuk sekiranya kembali kepada hamba,,
Malewa
Sabar daeng!!
Kesabaran sesungguhnya adalah do’a – do’a yang mustajab,dan merupakan persungguhan atas keteguhan iman seorang manusia,apalagi jika kau seorang istri..
Addaraeng
Tapi bukankah kau tahu malewa,andai anak yang kukandung ini melihat ayahnya pergi,itu akan memberiku sedikit ruang untuk menjawab semua pertanyaannya kelak,namun pada kenyataannya ketika daeng Tanre berangkat anak diperutku masih segumpal darah..
anak ini butuh kasih sayang  agar tak salah ia kelak dalam melangkah malewa,
Aku tak ingin kelak anakku menjadi manusia yang tak mengerti akan kesungguhan,tentang tanggung jawab  serta semua hal yang harusnya ia dengar dari ayahnya..
                                                                                Malewa
Hanya Tuhan yang tahu dan mengerti tentang apa yang digariskannya..maka biarlah kita dengan harapan-harapan ini daeng..semoga saja ada kabar baik dari lautan lepas disana..kabar tentang kembalinya daeng Tanre (mengelus pundak Addaraeng)
(on stage)
Tanre
“berdiri heran dan kecewa yang bercampur rasa lelah ditubuhnya..”diam tak bergeming menjatuhkan bawaannya,badannya lusuh dan terlihat berantakan..”
Addaraeng
Daeng..daeng..engkau telah kembali..(mencoba mendekati Tanre  namun tak direspon baik oleh Tanre)
Tanre
Berjalan lesu dengan ekspresi datar menuju kursi sambil melihat perut istrinya
Malewa
Daeng ..apa kau baik-baik saja??
mengapa daeng terlihat tak merasa senang kembali kerumah??
Tanre
Ternyata yang dikatakan sabbe dan penduduk desa benar adanya..Apakah setahun lebih kepergianku telah memekarkan bunga penghianatan yang pekat tak berwarna??hingga kulihat istriku berbadan dua setelah tak pernah kusentuh sejak kepergianku hari itu..
Addaraeng
Apa maksudmu daeng??
Tanre
Siapa anak yang kau kandung itu??
Addaraeng
( tersenyum heran bercampur sedih ) apa yang kau bicarakan daeng??ini anakmu..anak kita..aku merawatnya agar kelak ia bisa tumbuh gagah perkasa seperti ayahnya..
Tanre
Ayah yang mana??
Aku tak mengerti..
Addaraeng
(menangis) apa kau meragukanku daeng??apakah kau meragukan kesetiaan yang menjadi darah dalam tubuhku??
Malewa
Apa sebenarnya yang terjadi padamu daeng?mengapa kau tiba-tiba berfikiran seperti itu??
Tanre
Diam malewa!!aku bahkan percaya bahwa anak yang dikandung perempuan itu adalah anakmu..
Malewa
Jaga lidahmu daeng!!
Jangan sampai resah yang menghampirimu menjadi tombak yang akan hancurkan rasa hormatku,
Ujung lidah adalah pemantik bara api,,sekali terbakar kita akan kekal didalamnya..
Bergumul amarah dan rasa tak percaya..bahkan untuk semua hal yang hanya firasatmu saja..
Tanre
Apa kalian berdua tahu apa yang kukorbankan untuk kembali ketempat terkutuk ini??apa kalian tahu ?? (membentak dengan amarah yang meninggi ) Malewa,jika memang itu bukan anakmu,maka biarkan aku menghunus badik ini didada perempuan itu,,karena tak sekalipun pernah kutinggalkan benih dirahimnya..(hendak menikam Addaraeng namun segera dicegah oleh malewa )
Malewa
Apa daeng sudah gila??mengapa gunjingan manusia selaknat sabbe dan orang-orang desa daeng dengarkan?sedang ketika kau susah ia tak peduli dengan itu,,kenapa tiba-tiba mereka peduli dengan rumah tangga daeng??kami ini keluargamu daeng..aku  adikmu..malewa yang dulu selalu kau jaga dan kau lindungi..Apa daeng telah mabuk oleh belaian perempuan disana hingga daeng kehilangan kepercayaan pada  istri daeng sendiri??(memeluk Tanre)
Addaraeng
(menangis) daengku Tanre Ria’ ka’..disepotong malam aku selalu terjaga,,berharap kau pulang membawakanku tubuhmu yang kurindukan,,disetiap fajar aku terjaga untuk berdo’a semoga kelak mata ini mampu melihat wajahmu sekali lagi..tapi kalau memang daeng menganggap  aku adalah perempuan hina dan anak yang kukandung ini bukan anakmu daeng,maka biar kubuktikan kesucianku dengan kematian..semoga semua bisa menjawab segala resahmu,,
(berteriak histeris) Wahai  engkau yang Esa,Tuhan diatas segala-galanya...jika benar aku adalah perempuan hina maka tolaklah kematianku,kekalkan tubuhku membusuk dalam duniamu,
Daeng...(berteriak serak memanggil Tanre  menikam dirinya,membuktikan kesungguhan ucapan tentang kesucian ,dan akhirnya lepaslah nyawa Addaraeng disambut sesal Tanre Ria’ ka’..
(Lampu padam)
Jubba
Berteriak memanggil-manggil neneknya..hingga kemudian terjaga dari mimpi...
Nenek..nek...kenapa tiba-tiba gelap??tolong...tolong (berteriak)
Masuk seorang perempuan dengan tergesa-gesa..kemudian mengambil koper berisi  pakaian..
Sempat ditahan oleh Jubba’..

Jika sebuah kepercayaan mampu kau beli,maka belilah sebanyak yang kau pahami..
Bungkuslah sebanyak kau bisa..
Sebab kita berkubang dilumpur yang sama..
Lumpur asing bernama dunia..


END

MENGAPA HARUS AKU


MENGAPA HARUS AKU
Banyak terbesik kata
Laksana pasir tak terhitung
Banyak terbesik dengungan serta gumamnya bumi
Metamorfosa kehidupan
Mengapa harus aku
Tanda Tanya selalu menyertai
Ketakpahaman mendera pelan
Ku mencoba untuk memahami
Tapi sungguh aku tak mampu
Mengapa harus aku
Fantasi hidup membuat bertahan
Hanya untuk sebuah tanda Tanya
Yang tak pernah ku pahami
Mengapa harus aku
Ku mencoba mengerti
Melakukan kehendak jalan-Mu
Nafas terengah-engah untuk jalan-Mu
Menagapa harus aku
Ku berharap menemukan
Jawaban akan apa yang kucari
Lentera penerang, kini telah redup
Ditelan segudang jawaban hambar
Mengapa harus aku
Aku berharap akan ku temukan
Segudang jawaban
Aku berharap akan ku temukan sebuah tanda Tanya
Mengapa harus aku
Langksah kecil menuntunku
Terbetik dalam benak
Inikah jawabannya
Mengapa harus aku
“Aku seorang hamba”
Karya : Iebe saompu Ais

MAU KE MANA


MAU KE MANA
Kecerdikan kecilmu
Tak mampu bergerak, tersudut, terhimpit
Tak sadarkah engkau, dengan apa yang mengalir
Dalam dirimu…?
Mencoba berlari dari kenyataan yang nyata
Engkau mahu ke mana
Mengingkari segala yang tersurat
Bersembunyi dari apa yang tersirat
Mari kawan ragaku mengajak bersekongkol suci
Kita tertatih bersama dalam dirinya
Jika itu buruk, relakan hatimu jadikan sandaran
Jika itu kotor…
Relakan tanganmu untuk menggenggam
Putar arahnya…jangan engaku mengalah darinya
Engakau mau ke mana
Sudah terlanjur, sudah basah sudah di mata
Gunakan sepotong daging lembut dalam tengkorakmu
Sudah terlalu jauh kita melangkah, sudah di mata…sudah basah
Gunakan sepotong daging lembut dalam tengkortakmu
Bukanlah saatnya berpangku tangan
Mencari kebenaran di atas ego diri kita
Tak akan ke mana bulan di kejar
Leburkan hati serta pikiran
Katakana pada masalah
Engkau mahu ke mana
Karya : Iebe Saompu Ais

Lingkaran Nyanyian Cinta


Lingkaran Nyanyian Cinta
terbujur lemah, aku tak berdaya
terbujur kaku, tak punya daya melangkah
nyanyian cintamu menguburku
lenyap tanpa bekas
melingkar dalam duniamu
tersesat tanpa arah, terselimuti nyanyian cinta
aku terpenjara di dalam jeruji yang gelap
langkahku tak panjang
sedikit, namun kea rah yang pasti
sedikit cahaya penerang demi teman sejati
namun semakin kalut, tak mampu menemukanmu
liku dan tanda Tanya, selamat datang
di lingkaran nyanyian cinta
akupun bertanya
dimana arah yang hakiki
apakah aku tersesat jauh…
aku coba bangkit dari lamunanku..
aku tetap tak mampu bangkit, ini hal yang berbeda
nadikupun turut bercerita memberikan isyarat
kau takkan mampu…
terlalu banyak pintu tanda Tanya
maka tersesatlah aku selama-lamanya
dalam lingkaran nyanyian cinta yang semu adanya.

Karya : iebe Saompu Ais


LAKSAMANA TERTIDUR


LAKSAMANA TERTIDUR
Aku pernah mencoba bangkit
Aku pernah melangkah jauh
Sejauh kaki ini ingin melangkah
Tapakku tak menuntunku kea rah yang jauh
Aku pernah mencoba bangkit
Dari cerita lamaku
Fatwamu itu menguburku
Sedalam yang tak pernah terbayangkan
Kelopakku tak pernah lalai darimu
Separuh yang ku tahu, begitulah aku
Retinaku tak pernah ingkar
Akan pesan tak pastimu
Aku lelah seperti ini…
Mencoba menjadi sejauh yang engkau mahu
Tapi senja tak pernah sepaham
Mencoba menjadi sejauh yang engkau mahu
Tapi langkahku tak pernah mampu
Tatihku tetaplah menjadi tatihku, selamanya
Langkah rapuh, terhenti di persimpangan misteri
Aku tak mampu melihatmu
Aku tak mampu menggapaimu, dikau semakin menjadi fatamorgana…
Karya : Iebe Saompu Ais


43


43
Kami poetra-poetri bangsa Indonesia
Mengakui berbahasa satu bahasa Indonesia
Kami poetra-poetri bangsa Indonesia
Mengakui berbahasa satu, bahasa Indonesia
Kami poetra-poetri bangsa Indonesia
Mengakui bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kata-kata itu yang telah engkau ikrarkan
Janji-janji itu yang telah engakau kumandangkan
Bergejolak jiwaku, membakar semangatku
Bersatulah jiwa yang baru
Bersatulah semangat yang baru
Dengan tangan inilah
Dengan akal inilah
Kita buka cakrawala yang revolusioner
Kita bongkar kemunafikan tikus berdasi
Tak usah ragu
Tak usah pamrih
Tatap masa depanmu
Tantangan menghadang
Mari kita buat perubahan yang berarti
Karya : Iebe Saompu Ais


JAUH DI SANA


JAUH DI SANA
Takkala fajar menyingsing
Air mataku selalu berlinang
Takkala matahari terbit
Air mataku selalu berderai
Di negeri orang ku coba bertahan
Mengais sedikit belas kasih alam semesta
Bertahan dengan sedikit cahaya iman
Berharap gelap berubah warna menjadi kilau cahaya
Dipenghujung lorong waktu ku labukan harapan
Telah tertancap segala niatan hidup
Memang taka da yang tak mungkin, itu pasti dan aku percaya
Semua bias berubah dengan sekali membalik telapak tangan
Dengar…alam turut bersaksi
Jerit asa yang penuh harap dengan suatu masa
Jeritan yang jauh dari sebuah keramahan sanak dan sedarah
Janji akan ku tepati…itu langkah pasti
Membuatku teringat sebuah janji
Kepada semua jeritan hidup yang pernah menyapaku
Dan waktu akan menjadi saksi, bahwa itu akan jadi acuan di kala kelak
Jangan memandang ke atas bila tak bercita-cita
Jangan melecehkan jika tak punya kuasa
Kakiku masih sanggup berdiri
Kakiku masih dapat bergerak empat bahkan enam kali lipat dari berjalan
Sepanjang mata memandang
Buih bercerita tentang sosok anak manusia yang kumal
Mencoba mencari peruntungan di tengah deras dan kerasnya kehidupan kota
Aku anak laut flores, dan akan kembali ke pangkuan ibu pertiwiku
Lautan flores menanti kedatangan petarung masa depan
Karya : Iebe Saompu Ais

Hati yang merdeka


Hati yang merdeka
Aku dan dirimu sama “Indonesia”
Kalian dan mereka sama
Kalian…kalian sama denganku, kita semua adalah Indonesia
Tak rela negeriku diperbudak
Tak rela negeriku dijadikan boneka mainanmu
Kami bangsa yang besar
Takkan gentar oleh seratus, seribu bahkan jutaan badai sepertimu
Fondasi kami kokoh “ pancasila”
Takkan mudah goyah
Takkan mudah tergelincir dengan mudahnya
Kibarkan merahnya merah putih
Kepakkan putihnya putihnya benderaku
Pertanda aku sudah merdeka
Kemerdekaanku adalah kemerdekaan sang sakaku
Beban hilang, lenyap senyappun bersaut-saut
Menyamabut kepakkan sang saka dua warna
Aku merdeka…aku merdeka…
Tetaplah di ujung ketinggian
Tetaplah gagah di atas sana
Biarkan aku menjagamu dengan lelah
Takkan ku biarkan tangan noda, menyentuhmu…
Aku telah merdeka…
Karya : Iebe Saompu Ais

Dunia palsu


Dunia palsu
Laksana bunga
Kamilah kuncupnya
Laksana belati
Kamilah pngkalnya
Tumbuh di sela-sela kemilauan kegelapan
Akan cukup untuk menumbangkan
Parodi-parodi serta antek-antek dari kapitalis berjalan
Dalam panggung-panggung demokrasi kepalsuan
Engaku mengakui
Adanya panca dalam ideology
Akan tetapi begitu mudahnya
Ideology pancasila nan kokoh itu
Rapuh, lenyap dan musnah tanpa bekas
Demi satu tujuan kapitalis berjalan
Alaahhh…dasar ideolgi abal-abal
Meneriakkan kokohnya ideologimu
Yang tumpul ke atas namu dengan gagahnya amat tajam ke bawah
Amanat kami engaku renggut
Karna sudah terlalu lama bersolek ria dan cantik
Di kursi-kursi parlemen penuh dusta dan kong kali kong
Maka tak sala jikalau aku, mereka dan kami semua tak punya rasa hormat padamu
Dan meneriakkan engkau pantas dijuluki tikus-tikus beradasi yang basah
Kini ideology telah terjual murah
Tak mampu lagi menjadi tameng pelindung
Pemegang tampuh kekuasaan semakin gencar
Meneror, mengejar, mencekik serta dengan perlahan menutup jalan nafas kami
Serta tak segan-segan menumpahkan darah di bumi yang palsu ini
Dengan menjadikan pengepul dapur-dapur kami, orang-orang tak berdaya menjadi kering akan keadilan
Satu kata yang terlontar dari mulut biadap itu
“persetan dengan ideology, saatnya panen”
Karya : Iebe Saompu Ais

DI TIMUR MATAHARI


DI TIMUR MATAHARI
Terpencil di sudut timur hamper mencium mentari
Namun gagah perkasa
Jauh di sudut tepian timur
Tapi selalu setia
Jauh dari keramaian
Engaku kokoh pada bendera
Laksana kayu, engakau tak mudah lapuk
Walaupun dimakan zaman, rayap dan koruptor
Kokohkan selalu kesetiaan
Patrikan selalu janji insan putihmu
Di timur matahari istimewah
Gagah perkasa tak pernah lemah
Di timur matahari gerbang Indonesia
Menjaga kebinekaan sang saka merah putih
Sunyi, senyap lenyap menayapa dada
Keyakinannlah yang engkau pertahankan
NKRI harga mati, taka ada tawaran tak ada keniscayaan
Pandangan satu sisi, tumpuan harapan bangsa
Di ujung matahari, kesetiaan melanda dada
Melanglabuana menyapa dada
Di timur matahari, engkaulah mutiara hitam indonesiaku
Karya : Iebe Saompu Ais


DEKLARASI MENTAH


DEKLARASI MENTAH
Membual tak berbuat
Membual tak berbuah
Membual tak berbekas
Membual tak berubah
Deklarasi mentah kau tawarkan
Jutan umat lemah dalam bualanmu
Tak pantas menjadi wakil tuhan di bumi
Gentayangan bak dedaunan kering diterpa semilir angina
Deklarasi mentah dikau sodorkan
Tanpa garis pembatas, siapa mereka
Hasil yang tak berubah
Deklarasi mentah, menambah jarak kesenjangan
Menambah gelar catatan hitam di pundakmu
Tergambar sosok yang munafik di parasmu
Jutaan cercaan tertulis di dadamu
Mengemis, menghibah serta merajut
Engkau lukis sejarahmu dengan tinta emas
Halalkan segala cara
Tak pernah memandang,gerangan  siapa dia dan mereka
Demi satu tujuan, deklarasi mentah terlaksana
Di kursi kemunafikan
Engaku goyangkan kaki, tertawa lepas
Terlupakanlah kami dan mereka di beberapa detik yang lalu
Deklarasi mentah penuh kemunafikan
Karya : Iebe Saompu Ais

… DAN AKU


… DAN AKU
Langkah ini tak bertuan
Genggam ini tak bertuan
Dia telah memiliki langkahmu
Dan aku…?
Seratus, seribu bahkan sejuta pertanyaan muncul
Tak pantaskah aku…?
Hinakah genggamanku
Langkahmu telah bertuan dan itu bukan aku
Dan aku…?
Dengan seratus, seribu bahkan sejuta pertanyaan
Terbetik ingin ku adukan kepada tuhanku
Ku mencoba tuangkan pada nafas yang lain
Hampa mendera, pilu tanyanya
Dan aku…?
Langkahmu semakin kokoh
Genggammu semakin kokoh
Hingga aku tak memiliki daya untu terlepas dari belenggu
Dan aku…?
Ku mencoba merajut rasa yang tercerai berai
Berharap aka nada penerang atas teka-teki ini
Semakin asa terajut, semakin terpuruk
Dan aku…?
Rapuh…
Karya : Iebe Saompu Ais

“BERSOLEK”


PROSA

“BERSOLEK”
Laksana bunga, kamilah kuncupnya
Sehelai demi sehelai bermekaran
Selembar demi selembar berwarna
Mekar berseri di tengah pudarnya kelopak
Mencoba merangkak
Tertatih berdiri, berlari dan mencoba bangkit penuh semangat
Namun tatihku tepatahkan
Mencoba merangkak
Menapaki jejak gelapnya lorong san pemula
Yang setiap saat menaburkan
Di tengah-tengah hangatnya rasa
Menjadikan yang hangat…semakin hangat
Menjadikan yang dingin…semakin dingin
Kami menata mimpi besar
Kami meretas asa apsti
Retak yang dulu terlihat
kami simpul dengan erat
mencoba meyakinkan diri, hati , rasa serta pikiran
melogiskan apa yang seharusnya menjadi sesuatu logis
dalam setiap diam kami menyimpan makna
dalam setiap bisukami menyimpan Tanya
sayatan waktu, potongan detik serta gempuran menit
bukan merupakan hala rintangan untuk meretas asa pasti
kaki telah menentukan langkah, menentukan pilihan dari langka
demi secerca cahaya redup, dari ribuan jemari yang mengintai
kami masih memiliki kalian
penunjuk arah sejati dan takkan pernah lelah
pelita…
dikala gelap datang meyapa
embun…
diakal terik datang membayang
kujadikan titik tumpuan, tongkat dalam titik kala hati melebur
menjadi debu-debu beterbangan tanpa arah
memenuhi derap lagkah (saya, kamu, kalian,…kita semua)
apakah semua akan kembali
apakah semua akan pulih seperti sedia kala
di tangan kitalah hangat itu akan tetap hangat
di tangan kkitalah dingin itu akan tetap dingin
dalam diam dia telsh menuntut
dalam bisu, kalut dia merajut
mengapa kalian sudutkan aku
terngiang symbol melengkung besar?
Apa aku tak semurni dahulu? Jawab !
Apak aku tak sekuat pertama bersinar? Jawab !
Aku menuntut hakku, berikan !
Aku menuntut milikku, berikan !
Kembalikan senyum laluku…kembalikan…kembalikan
Kapan kalian akan peduli
Terlalu sibuk menata hasil
Lalu buta sekejap
Kesenjangan sudah Nampak jelas
Bukan seperti ini yang aku inginkan
Keperkasaan kalian tergadaikan dengan harga yang sangat murah
Berkubang dalam kebenaran semu
Yang tertampar hampa letih tak berdaya
Terkadang aku ingin mengadu
pada diri-diri kalian yang terbimbing
namun mustahil berharap padamu
yang kini telah jauh dari jati dirimu
kalian telah menjelma menjadi budak-budak yang bodok
tak berakal, tak bermoral serta tak beretika
yang akan selalu siap dan siaga
melumat habis tanpa bekas swdikitpun
kini aku terpuruk
kepada siapa dia akan berpegang
wahai engakau sang intelektual muda
sejatinya engkau terlahir dari rahimnya
sekalipun tak sempurna kesempurnaan-Nya
namun itulah kesempurnaan yang diberikan
jangan jadi manusia-manusia bejat
sekali-kali bersatu dalam dirinya
namun pecah dalam dirinya pula
lalu…aku terlantar sepi
aku akan tersudut lesu
harapanku telah tertanam dalam
dalam…sangat dalam,
jauh sebelum kalian-kalian, menebarkan genjatan kata-kata laknat dari sudut tirai-tirai
jangan pernah berkubang dalam tubuhku
jikalau hanya menumpahkan arogansi, amarah oleh logika murnimu
aku tak pernah butuhkan itu
kami butuh pencerahan atas jalan kami
fastabuqul khoirat jalan sejatiku
bukanlah laknatullah tujuan utamaku
aku tak pernah memahat itu pada hati-hati kalian semua

karya : Iebe Saompu Ais