Perahu
Seberang
Naskah : Aliul Abdullah
SinopSis
Kepercayaan
adalah simbol sebuah rasa cinta, tanpa sebuah kepercayaan cinta ibarat pohon
tumbang di tengah gurun. Pada hakikatnya manusia di karuniai sebuah rasa dan
sepotong cinta, tanpanya hidup manusia tidaklah
layak disebut hidup, Ujung lidah adalah pemantik bara api,sekali
terbakar kita akan kekal didalamnya..
Resah
kadang menjadi tombak yang akan hancurkan keyakinan,
Manusia
bergumul amarah dan rasa tak percaya,
Diceritakan
dalam kisah,jubba mengalami peristiwa
pahit dalam hidupnya,kemudian tersesat didalam mimpi,melihat kejadian-kejadian
yang berantai dan saling terikat,
Pelakon
:
Jubba
Nenek
Tua
Tanre
Ria’ ka’
Addaraeng
Malewa
Sabbe
La
makka
Marannu
La
nu’mang
Awak
kapal
Figuran
Opening
Seorang anak anak
lelaki memakai pakaian anak perempuan diatas panggung tengah bermain dengan properti
kotak yang mengisi hampir keseluruhan arena,dibolak balik, disejajarkan hingga membentuk
dende bulan dan bermain seperti anak kecil kebanyakan disorot lighting dan kemudian
menunjukkan ekspresi sedang kebingungan
melihat pakaian yang dikenakannya..
Hei Tuhan,,aku
masih labil..aku belum siap..aku senang dengan masa kecilku..aku tak ingin
menjadi dewasa..
“Datang dua orang
wanita dengan riasan wajah sangat putih tertawa dan berbisik-bisik..”
Breng de sek...brengsek...jing de jing...anjing..to
de lo..tolo..(out stage)
Kenapa??ada
apa??apa masalah kalian??dasar manusia penghuni negeri sampah..kenapa orang-orang
dinegeri ini selalu saja ingin tahu masalah orang lain..menceritakan aib
seseorang dengan gembira dan tanpa rasa bersalah.. gelandangan tak
berpendidikan..atau jangan-jangan mulut mereka memang tidak bersekolah...dasar
laknat..keparat...
“datang seseorang
yang sepertinya tengah mencari temannya”
Pemisi...
Iya..ada apa??(membentak)
Saya,,mencari teman saya yang baru saja lewat disini..????
Dua orang??
Tidak..tidak..
Perempuan??
Tidak..tidak..
Laki-laki..???(suasana
pertanyaan terdengar semakin genting)
Ya..ya..
Tinggi..??besar??berbulu??
Ya..ya..ya...
Bertanduk??
Ya..ya..
“merasa dibodohi
akhirnya jubba’ memberikan “Dusttt” beberapa kali pada lelaki tadi dan dibalas
lelaki itu dengan suara “ouchh” kemudian keluar arena..
Kenapa orang –orang
sekarang semakin bodoh saja??antara bodoh dungu kini sudah benar-benar tak
mampu lagi dibedakan..Yang pandai menjadi dungu,sedang yang dungu bertambah
dungu..
“terdengar suara
seseorang memanggil..beberapa kali dan menggema..
Jubba’..Jubba’..Jubba’..
Apakah itu kau Tuhan??
Bukan..
Lalu kau siapa??
Aku adalah kau dan
kau adalah aku..
Siapa??aku siapa
dirimu yang mengaku sebagai aku? “jubba’ kemudian out stage,(lampu remang
kemudian perlahan menjadi gelap..)
Dari luar arena
pertunjukan muncul seorang nenek tua membawa “ lampu sulo “ ( lampu tua yang
digunakan oleh orang-orang dahulu untuk penerangan ) seperti mencari
seseorang,kemudian memanggil –manggil “
Adegan I
jubba..jubba...( tak
ada sahutan )Apakah kalian melihat cucuku??( bertanya kepada penonton
)
Aduh..cucuku itu,semakin
dewasa semakin menyusahkan saja..Jubba...jubba ( kembali memanggil )
(on stage )
Mungkin karena
usianya sudah dewasa sehingga lupa bahwa ia masih memiliki nenek tua yang sudah
berbau tanah.. (duduk disebuah kursi) Padahal aku hanya ingin bercerita dengan
cucuku,,Akhir-akhir ini dia seperti melupakan aku..dia tidak peduli lagi
denganku..apakah benar aku sudah terlalu tua untuk diajak bercerita??
Aku masih bisa
makan sendiri,membersihkan tubuh sendiri,dan aku masih bisa mengurus diri
dengan baik..Apa aku benar sudah teramat tua?
(on stage)
Jubba
Nenek ,,(memanggil)
Nenek
Jubba kamu sudah sangat keterlaluan,dari tadi nenek mencarimu
kemana-mana,,
Sungguh malang
nasibku,tidak dihiraukan oleh siapa-siapa,,mungkin sebentar lagi tak ada yang
akan mengingatku,,
Aku merasa
kesepian,
Ingin bercerita
tapi tak tahu harus bercerita dengan siapa..padahal nenek punya cerita yang
sangat bagus..
Apa kau ingin
mendengarkan cerita dari nenek?
“jubba tidur
dipangkuan neneknya dan dibelainya mesra..”
Baiklah..akan
kuceritakan sebuah cerita...
Ini tentang perahu
seberang,
Sebuah cerita Tentang
kesetiaan,kepercayaan juga pengorbanan yang tak mampu ditukar oleh waktu,,
cerita ini selalu
saja mengingatkanku pada seseorang ketika segalanya masih nyata..
Disebuah negeri mashyur,ada seorang pemuda bernama Tanre ria’
ka’ ,dia mempunyai seorang istri yang sangat setia,tulus dan baik hati bernama
Addaraeng,
cinta mengelepak
bagai sepasang merpati yang hendak pulang kesarang,,Tapi terkadang gelap
seringkali datang dengan rias kesombongan membutakan mata hati siapa saja..
Ketika itu...( tiba-tiba
segerombolan orang-orang memasuki arena pertunjukan sambil membawa properti dan
berseru )
Para awak kapal
Kapal akan
berangkat..
Kapten kapal
Hei kalian..cepat
kapal sudah mau berangkat,,angkat semua barang-barang itu!!
Para awak kapal
Siap puang
(serentak)
Kapten kapal
Tanre...Tanre....Tanre....Mana
Tanre??
Awak kapal
Sepertinya masih
didermaga puang,
Kapten kapal
Apa??cepat panggil dia!!!kapal
ini sebentar lagi akan berangkat!!kita tidak mungkin berlayar tanpa seorang
nakhoda dan penunjuk arah, (out Stage)
Awak kapal
Baik puang..(Stay)
(on stage )
Tanre
Istriku Addaraeng..sudah saatnya aku pergi,
Addaraeng
Ie’ daeng,
Tanre
Mengapa kau terlihat risau ??bukankah aku telah
berjanji akan kembali..seperti para leluhur kita yang gagah berani mengarungi
lautan lepas dan pulang dengan kepala tegak untuk menemui orang-orang yang
mencintainya..
Addaraeng
Bukan daeng..bukan
ganasnya lautan yang membuatku takut melepasmu,ataupun derasnya hantaman badai
yang akan menghempas karam kapalmu,tapi aku takut,Takut jika saja kelak daeng
kembali dengan hati redup karena terbiasa akan ketidak-hadiranku,
Tanre
Jangan menyimpan
risau dalam hati Addaraeng..
Risau adalah benih
dari retaknya rasa yang telah kita dekap teguh,
Percayalah ..hati
ini tidak mungkin di isi perempuan
lain,,karena setiap ruang hambar dihati daeng telah penuh dengan namamu
Addaraeng..
Addaraeng
Ie’ daeng..aku akan
menjaga kesetiaanku,akan selalu menunggu hingga daeng benar-benar kembali..
Dan kepulangan daeng kelak tentunya akan menjadi
hadiah paling istimewa untukku..
(on stage )
Awak kapal
Tabe’ puangku,kapal
sudah siap untuk berlayar..
Tanre
Kalau begitu..Aku
pergi dulu addaraeng’..
Addaraeng
Hati-hati
daeng..!!!
“ terdengar
suara kapal yang mulai berlayar disambut suara-suara para awak kapal ”
( On
stage )
“sabbe
dan beberapa orang pengawalnya”
Sabbe
Kalian Lihat???...Akhirnya
yang pergi telah benar-benar pergi..meninggalkan kesunyian pada sepi yang
berkepanjangan..
Addaraeng
Apa maksud
perkataanmu itu sabbe’??
Sabbe
Puangku Tanre Ria’
ka’ pergi berlayar,kemudian akan berlabuh
didermaga para bidadari surga sekedar untuk melepas dahaga setelah lelah
berlayar dilautan kering tanpa kasih sayang..
Addaraeng
Apa yang kau
fikirkan tentang suamiku itu teramat salah,
Daeng Tanre bukan manusia dengan iman dan cinta yang
serakah sepertimu sabbe..
Kami telah melalui
segala getir juga sesak yang tak kau
miliki,,jadi tutup mulut bejatmu itu!!!
Sabbe
Sungguh perkataan
yang sangat santun dari istri seorang nakhoda terkenal dengan ketangguhannya
menaklukkan ombak dilautan lepas..seorang pejuang yang menuntun nyiur tumbuh
berkembang dipesisir pantai minasa..
Sayangnya puangku
Tanre Ria’ ka’ mungkin lupa untuk
mengajari istrinya Tutur bahasa yang akan menghindarkannya terluka bila tak
berhati-hati menjaga lidah..
Addaraeng
Terkadang aku
selalu melantunkan tanya pada Tuhanku,,,sesungguhnya niatan apa yang membuatnya
menciptakan manusia picik sepertimu sabbe,,manusia serakah yang seenaknya
memutar lidah dan tak pernah mau tahu penderitaan orang lain..
Apa yang kuucapkan
tadi kufikir pantas untukmu..
Sabbe
Tetaplah pada
keyakinanmu Addaraeng!!sebab risau itu nyata adanya,kau tak akan pernah mampu
melepas rasa curiga kala sepotong hati yang kau jaga tengah jauh mengembara..(tertawa)
(out stage”)
Addaraeng
Akhirnya sepi
mendekat padaku,,sebab purnama telah berlalu dan meninggalkan sepucuk benih
disini..ya..benih penantian akan kekasih..kuharap engkau yang maha kuasa berkenang
menjaganya disana..menjaga dalam kesetiaan,sama dengan engkau menjaga
kesetiaanku..(out stage)
“tiba-tiba
orang berdatangan membicarakan kabar tentang hilangnya kapal yang
diperbincangkan,,beberapa orang menjajakan jualannya..bercerita panjang lebar
satu sama lain..(Stay)
La makka
Apa kau sudah
dengar??berita tentang hamilnya Addaraeng istri puangku Tanre Ria’ ka’??
marannu
Apa dia hamil??tapi
bukankah suaminya sudah hampir setahun ini tak pernah kembali??
La makka
Iya..bahkan yang
kudengar kapal puangku karam disebuah pulau setelah dihantam badai..
marannu
Lalu,,??anak yang
dikandung Addaraeng anak siapa??
(saling berbisik-bisik)
La nu’mang
Kalian ini
benar-benar manusia kurang kerjaan,,menceritakan kekurangan orang lain secara
berjamaah..pantas saja kalian betah menjadi orang yang serba
kekurangan..sekarang bubar kalian..!!!Ayo bubar ...!!! (out stage)
( on
stage )
Addaraeng berjalan ketengah panggung dengan kondisi berbadan
dua“
Malewa
Apa kondisimu sudah
membaik daeng??
Addaraeng
Sudah hampir
sembilan bulan sejak kepergian suamiku,tapi sampai sekarang tak juga kudapati
kabar tentang keberadaannya disana..
Malewa
setelah kabar tentang karamnya kapal daengku
Tanre berhembus,berita itu membuat risih amma juga puangku dirumah besar..dan
entah bagaimana kabar daengku disana..kita hanya bisa menunggu,menunggu
sekalipun tak ada jawaban pasti akan tanya yang kian membara,,
Addaraeng
Wahai engkau sang
pencipta,
jika benar takdir
anakku lahir tanpa melihat ayahnya maka segala kepasrahanku akan kutumpahkan
padamu,
Namun jika ini
bukanlah sebuah pertanda buruk maka kumohon berilah ia jalan untuk sekiranya
kembali kepada hamba,,
Malewa
Sabar daeng!!
Kesabaran
sesungguhnya adalah do’a – do’a yang mustajab,dan merupakan persungguhan atas
keteguhan iman seorang manusia,apalagi jika kau seorang istri..
Addaraeng
Tapi bukankah kau
tahu malewa,andai anak yang kukandung ini melihat ayahnya pergi,itu akan memberiku
sedikit ruang untuk menjawab semua pertanyaannya kelak,namun pada kenyataannya
ketika daeng Tanre berangkat anak diperutku masih segumpal darah..
anak ini butuh
kasih sayang agar tak salah ia kelak
dalam melangkah malewa,
Aku tak ingin kelak
anakku menjadi manusia yang tak mengerti akan kesungguhan,tentang tanggung
jawab serta semua hal yang harusnya ia
dengar dari ayahnya..
Malewa
Hanya Tuhan yang
tahu dan mengerti tentang apa yang digariskannya..maka biarlah kita dengan
harapan-harapan ini daeng..semoga saja ada kabar baik dari lautan lepas
disana..kabar tentang kembalinya daeng Tanre (mengelus pundak Addaraeng)
(on stage)
Tanre
“berdiri heran dan kecewa
yang bercampur rasa lelah ditubuhnya..”diam tak bergeming menjatuhkan bawaannya,badannya
lusuh dan terlihat berantakan..”
Addaraeng
Daeng..daeng..engkau
telah kembali..(mencoba mendekati Tanre namun
tak direspon baik oleh Tanre)
Tanre
Berjalan lesu dengan
ekspresi datar menuju kursi sambil melihat perut istrinya
Malewa
Daeng ..apa kau
baik-baik saja??
mengapa daeng terlihat tak merasa senang kembali kerumah??
mengapa daeng terlihat tak merasa senang kembali kerumah??
Tanre
Ternyata yang
dikatakan sabbe dan penduduk desa benar adanya..Apakah setahun lebih
kepergianku telah memekarkan bunga penghianatan yang pekat tak berwarna??hingga
kulihat istriku berbadan dua setelah tak pernah kusentuh sejak kepergianku hari
itu..
Addaraeng
Apa maksudmu
daeng??
Tanre
Siapa anak yang kau
kandung itu??
Addaraeng
( tersenyum
heran bercampur sedih ) apa yang kau bicarakan daeng??ini anakmu..anak
kita..aku merawatnya agar kelak ia bisa tumbuh gagah perkasa seperti ayahnya..
Tanre
Ayah yang mana??
Aku tak mengerti..
Addaraeng
(menangis)
apa kau meragukanku daeng??apakah kau meragukan kesetiaan yang menjadi darah
dalam tubuhku??
Malewa
Apa sebenarnya yang
terjadi padamu daeng?mengapa kau tiba-tiba berfikiran seperti itu??
Tanre
Diam malewa!!aku
bahkan percaya bahwa anak yang dikandung perempuan itu adalah anakmu..
Malewa
Jaga lidahmu
daeng!!
Jangan sampai resah
yang menghampirimu menjadi tombak yang akan hancurkan rasa hormatku,
Ujung lidah adalah
pemantik bara api,,sekali terbakar kita akan kekal didalamnya..
Bergumul amarah dan
rasa tak percaya..bahkan untuk semua hal yang hanya firasatmu saja..
Tanre
Apa kalian berdua
tahu apa yang kukorbankan untuk kembali ketempat terkutuk ini??apa kalian tahu
?? (membentak dengan amarah yang
meninggi ) Malewa,jika memang itu bukan anakmu,maka biarkan aku menghunus
badik ini didada perempuan itu,,karena tak sekalipun pernah kutinggalkan benih
dirahimnya..(hendak menikam Addaraeng namun segera dicegah oleh malewa )
Malewa
Apa daeng sudah
gila??mengapa gunjingan manusia selaknat sabbe dan orang-orang desa daeng
dengarkan?sedang ketika kau susah ia tak peduli dengan itu,,kenapa tiba-tiba
mereka peduli dengan rumah tangga daeng??kami ini keluargamu daeng..aku adikmu..malewa yang dulu selalu kau jaga dan
kau lindungi..Apa daeng telah mabuk oleh belaian perempuan disana hingga daeng
kehilangan kepercayaan pada istri daeng
sendiri??(memeluk Tanre)
Addaraeng
(menangis)
daengku Tanre Ria’ ka’..disepotong malam aku selalu terjaga,,berharap kau
pulang membawakanku tubuhmu yang kurindukan,,disetiap fajar aku terjaga untuk
berdo’a semoga kelak mata ini mampu melihat wajahmu sekali lagi..tapi kalau
memang daeng menganggap aku adalah
perempuan hina dan anak yang kukandung ini bukan anakmu daeng,maka biar
kubuktikan kesucianku dengan kematian..semoga semua bisa menjawab segala
resahmu,,
(berteriak
histeris) Wahai engkau yang Esa,Tuhan
diatas segala-galanya...jika benar aku adalah perempuan hina maka tolaklah
kematianku,kekalkan tubuhku membusuk dalam duniamu,
Daeng...(berteriak
serak memanggil Tanre menikam dirinya,membuktikan kesungguhan ucapan
tentang kesucian ,dan akhirnya lepaslah nyawa Addaraeng disambut sesal Tanre
Ria’ ka’..
(Lampu padam)
Jubba
Berteriak
memanggil-manggil neneknya..hingga kemudian terjaga dari mimpi...
Nenek..nek...kenapa
tiba-tiba gelap??tolong...tolong (berteriak)
“Masuk seorang perempuan dengan
tergesa-gesa..kemudian mengambil koper berisi
pakaian..
Sempat ditahan oleh Jubba’..
Jika sebuah kepercayaan mampu kau beli,maka belilah
sebanyak yang kau pahami..
Bungkuslah sebanyak kau bisa..
Sebab kita berkubang dilumpur yang sama..
Lumpur asing
bernama dunia..
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar