Minggu, 17 November 2019

“BERSOLEK”


PROSA

“BERSOLEK”
Laksana bunga, kamilah kuncupnya
Sehelai demi sehelai bermekaran
Selembar demi selembar berwarna
Mekar berseri di tengah pudarnya kelopak
Mencoba merangkak
Tertatih berdiri, berlari dan mencoba bangkit penuh semangat
Namun tatihku tepatahkan
Mencoba merangkak
Menapaki jejak gelapnya lorong san pemula
Yang setiap saat menaburkan
Di tengah-tengah hangatnya rasa
Menjadikan yang hangat…semakin hangat
Menjadikan yang dingin…semakin dingin
Kami menata mimpi besar
Kami meretas asa apsti
Retak yang dulu terlihat
kami simpul dengan erat
mencoba meyakinkan diri, hati , rasa serta pikiran
melogiskan apa yang seharusnya menjadi sesuatu logis
dalam setiap diam kami menyimpan makna
dalam setiap bisukami menyimpan Tanya
sayatan waktu, potongan detik serta gempuran menit
bukan merupakan hala rintangan untuk meretas asa pasti
kaki telah menentukan langkah, menentukan pilihan dari langka
demi secerca cahaya redup, dari ribuan jemari yang mengintai
kami masih memiliki kalian
penunjuk arah sejati dan takkan pernah lelah
pelita…
dikala gelap datang meyapa
embun…
diakal terik datang membayang
kujadikan titik tumpuan, tongkat dalam titik kala hati melebur
menjadi debu-debu beterbangan tanpa arah
memenuhi derap lagkah (saya, kamu, kalian,…kita semua)
apakah semua akan kembali
apakah semua akan pulih seperti sedia kala
di tangan kitalah hangat itu akan tetap hangat
di tangan kkitalah dingin itu akan tetap dingin
dalam diam dia telsh menuntut
dalam bisu, kalut dia merajut
mengapa kalian sudutkan aku
terngiang symbol melengkung besar?
Apa aku tak semurni dahulu? Jawab !
Apak aku tak sekuat pertama bersinar? Jawab !
Aku menuntut hakku, berikan !
Aku menuntut milikku, berikan !
Kembalikan senyum laluku…kembalikan…kembalikan
Kapan kalian akan peduli
Terlalu sibuk menata hasil
Lalu buta sekejap
Kesenjangan sudah Nampak jelas
Bukan seperti ini yang aku inginkan
Keperkasaan kalian tergadaikan dengan harga yang sangat murah
Berkubang dalam kebenaran semu
Yang tertampar hampa letih tak berdaya
Terkadang aku ingin mengadu
pada diri-diri kalian yang terbimbing
namun mustahil berharap padamu
yang kini telah jauh dari jati dirimu
kalian telah menjelma menjadi budak-budak yang bodok
tak berakal, tak bermoral serta tak beretika
yang akan selalu siap dan siaga
melumat habis tanpa bekas swdikitpun
kini aku terpuruk
kepada siapa dia akan berpegang
wahai engakau sang intelektual muda
sejatinya engkau terlahir dari rahimnya
sekalipun tak sempurna kesempurnaan-Nya
namun itulah kesempurnaan yang diberikan
jangan jadi manusia-manusia bejat
sekali-kali bersatu dalam dirinya
namun pecah dalam dirinya pula
lalu…aku terlantar sepi
aku akan tersudut lesu
harapanku telah tertanam dalam
dalam…sangat dalam,
jauh sebelum kalian-kalian, menebarkan genjatan kata-kata laknat dari sudut tirai-tirai
jangan pernah berkubang dalam tubuhku
jikalau hanya menumpahkan arogansi, amarah oleh logika murnimu
aku tak pernah butuhkan itu
kami butuh pencerahan atas jalan kami
fastabuqul khoirat jalan sejatiku
bukanlah laknatullah tujuan utamaku
aku tak pernah memahat itu pada hati-hati kalian semua

karya : Iebe Saompu Ais


Tidak ada komentar:

Posting Komentar