cerpen
dedikasi ayah dan bunda
Buat kalian semua, saya ucapkan beribu-ribu
terima kasih atas doa, dukungan, motifasi. Karna tanpa kalian tanpa doa restu
kalian aku tidak akan seperti ini,tidak akan berdiri sendiri di sini..sejak
pertama ku ingin melangkahkan dan meninggalkan semuanya, kalian sempat berkata
kepadaku dengan suara yang lembut” Ananda apakah kami mampu merelakanmu untuk
pergi” kata-kata itu yang sempat mematahkan dan menggoyahkan semangatku yang
membara. dan ku yakinkan mereka”Ayahanda......Ibunda......jika hati kecil
kalian tidak merelakanku untuk pergi meninggalkan kalian ku hargai hal itu.
Jangan hanya untuk mementingkan masa depanku tetapi kalian ikut terjerumus,
tersiksa dan ikut menderita dengan apa yang ku inginkan dan ku impikan selama
ini. Walaupun susah kita akan selalu susah bersama, senangpun akan slalu
demikian pula. Aku rela mengorbankan masa depanku demi Ayahanda dan Ibunda..
Sehari sebelum menjelang keberangkatanku,
mereka memanggilku dengan seruan yang lembut dan penuh semangat “ Ayahanda dan
Ibunda ingin mengatakan sesuatu hal kepadamu , mungkin ini kabar bahagia untuk
kami tapi bukan untukmu, karna kami tau apa yang sedang engkau gundakan dan
khawatirkan jika ini kami katakan dan jika memang ini benar - benar terjadi
dalam kehidupanmu
Dalam hatikupun bertanya - tanya seraya
menatap ke wajah ceria mereka, lalu aku lontarkan sepatah kata kepada orang
yang aku muliakan sepanjang hayatku itu” Ayahanda....Ibunda ada kabar apa yang
membuat wajah kalian menjadi berseri-seri seperti orang yang mendapatkan durian
yang runtuh”, candapun aku lontarkan kepada mereka. Lalu mereka mangatakan hal
yang tak pernah ku duga sebelumnya, walaupun pada saat itu kebahagiaan meliputi
wajahku akan tetapi aku tidak dapat menyembunyikan kesedihanku pada saat itu
karna tak dapat ku gambarkan dengan kata-kata apapun....
Seraya mendekat ke hadapanku, dengan suara
yang amat lembut mereka mengatakan “Ananda kamu dapat melanjutkan studimu dan
meraih apa yang selama ini engkau impikan”, jantungku berdetak dengan kencang,
darahku mengalir dengan begitu lancar, satu yang terlintas dalam pikiranku dan
penatku pada saat itu” kekhawatiran dan rasa haru” karna aku tahu mereka
melakukan ini demi aku demi masa depanku, terimasih Ayahanda....teima kasih
Ibunda. Akan tetapi apakah aku bisa mengemban amanat tersebut apakah aku bisa
memikul kepercayaan itu. Lalu ku tatap berkali-kali wajah keduanya yang denga
senyumannya yang sangat khas dan kental akan keceriaan tersebut, hati ini
menangis, hati ini menjerit pilu, aku tahu dan aku sadar bahwa mereka tidak
mampu lagi untuk membiayai lagi studiku ke jenjang yang lebih tinggi
lagi...tetapi karna tekatku yang begitu besar sehingga mereka berkorban dan
mengerahkan seluruh kemampuan mereka, memeras keringa mereka agar saya dapat
melanjutkan studiku ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
Malampun menyapa kediaman kami yanng sangat
sederhana itu, saya duduk bersimpu bersama keluarga besarku, sekali - sekali ku
lempar tatapanku ke arah wajah kedua idolaku seumur hidupku tersebut yaitu
wajah-wajah yang akan ku tinggalkan kelak nantinya.
Tanpa
aku sadari air matakupun ikut berurai merasakan kesedihanku malam itu, karna ku
tak sanggup meninggalkan mereka. Lalu terdengar lantunan dan tepukan di pundak
kananku, kata-kata itu sangat bersahaja ku dengar telingaku” Ananda jaga dirimu
baik-baik, belajar dengan sungguh - sungguh buktikan bahwa kata- katamu yang
engkau lontarkan bisa engkau wujudkan bukan hanya omongan belaka semata, dan
wujudkan cita-citamu itu di kampung halamannya orang....air mataku semakin
bercucuran deras dan tak dapat tertahan lagi, aku semakin terbawa dengan
suasana di kediamanku pada malam itu....Kakakku tercintapun ikut mengambil
bagian untuk memberiku semangat, dorongan, dan motifasi kepadaku agar aku dapat
bertanggung jawab dengan apa yang telah di amanatkan oleh Ayahanda dan Ibundaku
kepadaku sebelumnya.
Semakin mereka memberiku semangat dan dorongan
semakin aku tak sanggup meninggalkan mereka, lalu Kakakkupun memberiku suatu
wejangan yang sangat bermakna dalam hidupku kelak di rantauan orang” Adikku
hanya engkau adik laki-lakiku
satu-satunya hanya kamu harapan Ayahanda....Ibunda, Kakak dan harapan
keluarga besar kita jadi kakak harap jangan kecewakan kami terutama Ayahanda
dan Ibunda, semangat belajarmu adalah pemicu semangat kami pula untuk selalu
mencari rizki yang walau harus membanting tulang siang dan malam walau napas
terengah - engah. Mendengar kata-kata itu air mataku semakin lancar jatuh
berderai, ku peluk erat-erat kakakku dan aku hanya bisa terdiam tanpa kata. Dan
diapun mencoba menenangkanku seraya berkata” Adikku kuatkan hatimu, tegarkan
imanmu, bulatkan tekatmu. Di mana adiknya kakak yang dulu tegar, di mana adikku
yang dulu ceriah, di mana adikku yang dulu kuat, kakak percaya kepadamu adikku,
lanjutkan lagi semangatmu, raih apa yang kamu ingin raih, gapai yang ingin kamu
gapai, ini saatmu adikku......ini kesempatanmu kakak akan selalu berdoa untuk
untuk keberhasilanmu adikku. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami pula,
sedihmu adalah cemeti buat kami semua, tetap semangat adikku doa kakak akan
selalu menyertai perjalanan muliamu.
Dengan wejangan inilah yang menjadikanku untuk
semangat meraih apa yang selama ini ku impikan. Akan ku buat mereka bangga,
akan ku ubah perkataan orang terhadap keluargaku...INGAT ITU....!!!!
Pada suatu pagi tepatnya pada pukul 06.30
menjelang keberangkatanku menuju ke kota, merekapun turut menemani dalam setiap
langkahku. Gelimangan air mata mereka pula turut menghantarkanku pergi
meninggalkan keluarga besarku dan para teman - teman seperjuanganku. Sebelum
menuju ke kapal mereka sempat memelukku,menciumku seakan - akan mereka tak
ingin melepaskanku. Akan tetapi kuyakinkan semua keluargaku yang tercinta.....
“Ananda pergi untuk kalian”
“Ananda pergi untuk janji ananda yang pernah
ananda ucapkan”
“Ananda pergi untuk kita semua”
Jadi ananda berharap relakan anada dengan hati
yang ikhlas, relakan ananda untuk kebaikan. Lalu ku langkahkan kakiku menuju
kapal dengan hati yang tidak rela melepaskan mereka, akan tetapi apa boleh buat
hal ini harus terjadi padaku karna ini yang terbaik untukku dan untuk
keluargaku kelak nanti. Anak demi anak ku tapaki tanggal kapal pandangan
merekapun tak pernah melepaskanku, sesampainya di atas kapal terdengar seruan
suara ibundaku tercinta yang sangat khas dan kental dengan suara kesedihannya”
Ananda jaga dirimu baik-baik ibunda akan selalu merindukanmu....
sirena kapalpun berbunyi pertanda kapal akan
segera bertolak dari pelabuhan. Ku tatap ibundaku di dalam kerumunan orang
banyak, dengan lambaiannya seraya bertolaknya kapal menghantarkanku pergi
meninggalkan keluargaku dan ibundaku tercinta...
Mulai dari saat itulah, ku bulatkan tekatku
untuk bersungguh - sungguh di rantauan orang. Dan kata-kata merekalah yang
membuatku tetap semangat menjalani hidup ini.
Moto
Akan kuhapus keringat kedua orang tuaku dengan saputangan
keberhasilanku
Karya : ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar