Prosa
“FOKMAS BERSOLEK”
“(didedikasikan untuk seluruh tubuh
FOKMAS)”
Karya : Ibrahim zane
Laksana bunga, kamilah kuncupnya
Sehelai demi sehelai bermekaran
Selembar demi selembar berwarna
Mekar berseri di tengah pudarnya
kelopak
Mencoba merangkak
Tertatih berdiri, berlari dan mencoba
bangkit
Penuh semangat
Namun tatihku terpatahkan
Mencoba merangkak
Menapaki jejak gelapnya lorong sang
pemula
Yang setiap saat menaburkan
Di tengah-tengah hangatnya rasa
Menjadikan yang hangat...semakin hangat
Menjadikan yang dingin...semakin dingin
Kami menata mimpi besar
Kami meretas asa pasti
Retak yang dulu terlihat
Kami simpul dengan erat
Mencoba meyakinkan diri,hati,
rasa, serta pikiran
Melogiskan apa yang
seharusnya menjadi sesuatu logis
Dalam setiap diam, kami
menyimpan makna
Dalam setiap bisu, kami
menyimpan tanya
Sayatan waktu, potongan detik
serta gempuran menit
Bukan merupakan hala
rintangan untuk meretas asa pasti
Kaki telah menentukkan
langkah, menentukkan pilihan dari langkah
Demi secerca cahaya redup
dalam ribuan jemari yang mengintai
Kami masih memiliki kalian
Penunjuk arah sejati dan
takkan pernah lelah
Pelita... dikala gelap datang
menyapa
Embun...dikala terik datang
membayang
Kujadikan titik tumpuan,
tongkat dalam titik kala hati melebur
Menjadi debu-debu beterbangan
tanpa arah
Memenuhi cakrawala setiap
derap langkah saya, kamu, kalian...kita semua
Apakah semua akan kembali
Apakah semua akan pulih seperti sedia
kala
Di tangan kitalah hangat itu akan tetap
hangat
Ditangan kitalah dingin itu akan tetap
dingin
Dalam diam dia(FOKMAS) telah menuntut
Dalam bisu, kalut dia(FOKMAS) merajut
Mengapa kalian sudutkan aku(FOKMAS)
Terngiang simbol melengkung besar(?)
Apa aku(FOKMAS), tak semurni
dahulu...jawab !
Apa aku(FOKMAS), tak sekuat perrtama
bersinar...jawab !
Aku(FOKMAS), menuntut hakku...berikan !
Aku(FOKMAS), menuntut milikku...berikan
!
Kembalikan senyum
laluku...kembalikan...kembalikan
Kapan kalian akan peduli
Terlalu sibuk menata hasil
Lalu buta sekejap
Kesenjangan sudah nampak jelas
Bukan seperti ini yang aku inginkan
Keperkasaan kalian tergadaikan
Dengan harga yang sangat murah
Berkubang dalam kebenaran semu
Yang tertampar hampa, letih tak berdaya
Terkadang aku ingin mengadu
Pada diri-diri kalian yang terbimbing
Namun mustahil berharap padamu
Yang kini telah jauh dari jati dirimu
Kalian telah menjelma menjadi
budak-budak yang bodoh
Tak berakal, bermoral serta tak
beretika
Yang akan selalu siap dan siaga
Melumat habis tanpa bekas sedikitpun
Kini FOKMASKU terpuruk
Kepada siapa dia akan berpegang
Wahai engkau sang intelektual muda
FOKMAS
Sejatinya engkau terlahir dari rahimnya
Sekalipun tak sesempurna kesempurnaan-Nya
Namun itulah kesempurnaan yang
diberikan
Jangan jadi manusia-manusia bejat
Sekali-kali bersatu dalam dirinya
Tapi pecah dalam dirinya pula
Lalu...FOKMASKU akan terlantar sepi
FOKMASKU akan tersudut lesu
Harapanku telah tertanam dalam
Dalam...sangat dalam jauh sebelum
kalian...kalian
Menebarkan genajatan kata-kata laknat
dari sudut tirai-tirai
Jangan pernah berkubang dalam tubuhku
Jikalau hanya menumpahkan arogansi,
amarah oleh logika murnimu
FOKMASKU tak pernah butuhkan itu
Kami butuh pencerahan atas jalan kami
Fastabiqul khoirat jalan sejatiku
Bukanlah laknatullah tujuan utamaku
FOKMASKU tak pernah memahat itu pada
hati-hati kalian semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar