Jumat, 23 Januari 2015

TENGGELAMNYA
RASA MEMILIKI(FOKMAS)
Oleh : Ibrahim Zane(Ibe)
Mengapa seperti ini...kenapa bisa terjadi...siapa yang patut disalahkan dalam hal ini, apakah kita harus menyalahkan mereka yang lebih dulu merasakan hal ini apakah kita yang berada dibawahnya mereka yang tidak pernah mengikuti setiap hal yang baik dan dapat menjadikan kita menjadi baik.
Pertanyaan tersebut jangan pernah sekali-kali kita bertanya merekalah harus menjawab pertanyaan tersebut, merekalah yang pantas untuk disalahkan bukan kita. Seketika pertanyaan-pertanyaan tersebut dilontarkan kepada beberapa orang maka serentak mereka menjawab jangan pernah tanyakan pada saya, jangan tanyakan pada kami tanyakanlah pada mereka-mereka yang bertanggung jawab dengan semua ini.
Dualisme seperti ini yang sering terjadi dalam tubuh fokmas, lantas kepada siapa kami akan bertanya serta lantas kepada siapakah kita akan mencari jawaban atas semua ini, apakah kita harus saling menyalahkan, apakah kita tetap akan saling menunjuk dialah yang tahu jawabannya dengan masalah yang sedang dihadapi oleh fokmas. Tiada lagi yang dapat dijadkan sandaran, tiada lagi yang kritis dalam melihat masalah, tiada lagi yang kritis dalam menghadapi masalah dan tiada lagi yang kritis serta cerdas memberikan sebuah solusi cepat untuk menjadikan masalah menjadi lebih runcing.
Dengan keadaan seperti ini, apakah mereka yang tidak berhasil mendidik kami ataukah kamilah yang tidak mendengar apa yang mereka katakan, ataukah kami yang tidak berhasil mendidik mereka menjadi orang-orang yang dapat diandalkan,ataukah merekalah yang tidak mendengarkan serta tidak memahami apa yang kami telah contohkan kepada mereka, ataukah mereka-merekalah yang tak mampu mengemban amanat yang telah tertanam dalam benak-benak mereka dan tak perah menutup kemungkinan jikalau mereka di bawah merekalah yang tak memiliki kemauan untuk mendengarkan apa yang dikatakan oleh senior di atas senior dan senior-senior di bawah senior.
Pertanyaan yang patut untuk dijawab, bukan dengan jawaban yang hanya sekedar menjawab akan tetapi pertanyaan tersebut haruslah dijawab dengan jawaban yang kuat mengarah kepada permasalahan yang sedang dihadapi oleh kita sekarang tanpa harus memikirkan bukan aku yang salah, karena terkadang kita lebih mementingkan keegoisan dalam menyembunyikan jawaban tersebut.
Yang paling menonjol sekarang adalah bagaimana sekarang rasa saling menghargai serta saling menghormati antara yang tua dengan muda serta rasa menyayangi dan rasa memiliki rasa serta nasib yang sama seketika dalam satu pihak memiliki kesulitan telah lenyap dari dirinya(fokmas), maka timbullah pertanyaan yang agak menggelitik hati dan seharusnya menjadi beban pikiran kita semua bagi yang benar-benar memiliki rasa kepunyaan terhadap fokmas,dan hal yang menggelitik itu adalah kejadian-kejadian seperti yang telah dipaparkan itu apakah merupakan murni kesalahan para pendahulu kita ataukah kesalahan orang-orang yang telah memiliki pemahaman tentang hal tersebut ataukah kesalahan murni kesalahan individu.
Maka pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak cukup serta berhenti pada area itu akan tetapi dia akan merembet kepada, mungkin saja bukan para pendahulu yang salah tapi kitalah sebagai orang yang dididik inilah yang tidak pernah mahu sedikitpun mendengar atukah ketiadaan rasa kepemilikan terhadap fokmas itulah yang menjadi pemicu utama terjadi kesenjangan-kesenjangan yang sedang bergelut sertabergemuruh dalam tubuh fokmas.
Judul di atas bukanlah hanya seonggok judul yang hanya menempel dan hanya terpampang tanpa memiliki makna tersendiri, judul tersebut bisa ada karena melalui sebuah analisis kecil-kecilan akan tetapi memiliki evek yang amat dahsyat terhadap judul tersebut, dan terbukti secara teoritis, secara aksi serta aplikasi bahwasanya rasa kepemilikan terhadap fokmas tersebut memang sudah terkikis dari diri-diri kita masing-masing dan apakah hal tersebut bukanlah merupakan sebuah beban untuk kita semua dan bukankah pertanyaan-pertanyaan yang muncul tersebut bukankah merupakanpertanyaan dasar yang pada kebenarannya tidaklah seutuhnya benar, apakah seketika pertanyaan-pertanyaan tersebut kalian membacanya maka sengaja tak sengaja kita semua tertawa karena arah dari pertanyaan tersebut memang agak sedikit mengocok perut para pembacanya, dua buah pertanyaan yang tak memiliki jawaban dari sebagian anggota fokmas.

1. apa itu FOKMAS...
2. apa arti fokmas untuk kalian...
Memang jikalau dilihat dari segi isi pertanyaan, maka orang akan berfikir lebih pantasnya pertanyaan itu diberikan kepada yang tidak termaksud anggota fokmas, miris sambil tertawa cekikikan itulah tanggapanku terhadap orang yang mendapat pertanyaan tersebut.(apakah memang mereka menganggap bahwa pertanyaan tersebut tidak penting untuk dijawab ataukah mereka tak mampu mejawabnya dan jikalau ingin mengetahui jawabannya maka silahkan renungkan pertanyaan tersebut serta berikan jawabanmu karena jawabannya terdapat pada otak-otak kalian yang sedang berpikir entah untuk kesejahteraan fokmas ataukah “ HANYA NAMPANG DOANG”(hasil kutipan dari pembicaraan dindaku).


  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar