Mutiara
tertanam
Pandangan yang terhunus tajam
Seakan menukik.....
Menghancurleburkan kepenatan di hati
Tutur kata yang teramat bersahaja
Terhujam begitu tajam, begitu dalam
Terurai sebuah kata.....SEMPURNA
Terhujam
sebuah kata sederhana
Telah
terjawab kegalauanku
Cakrawala
yang dahulu redup
Kini
telah bangkit
Memunculkan
secerca cahaya
Di
balik jeruji kepenatan
Pandangan yang terhunus tajam
Memberi makna...
Betapa anggunya kepribadianmu
Indah dipandang
Dalam kemurnian akhlakmu
Kupandang
lagi dirimu
Merenungkan
segalanya
Tiada
cela-cela apapun
Yang
dapat ku cerca
Hanya
satu kata terlintas
“SEMPURNA”
“Karya;ibrahim zane”
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
Diatas titian jahannam
Dalam
deru darah dan debar jantungku
Selalu
terlintas nama “Mulia-Mu”
Selalu
terbayang “Kebesaran-Mu”
Selalu
ku agungkan “Nama-Mu”
Akan
tetapi deruh darah dan debar jantung itu
Telah
berubah..!!!
Menjadi
deruh dan debar bisikan yang hitam
Deru dan
debar kemuliaan itu
Telah
musnah di telan hari-hariku
Wahai
dunia......sadarkan aku.... sadarkan aku..
Dalam
gelombang nadiku
Dalam
desahan nafasku
Jahannam
menantiku...
Jahannam
menyertaiku...
Jahannam
mengintaiku...
Jangan biarkan aku terlarut
Jangan biarkanku hanyut
Dalam kesesatan dan kehitaman ini
Ku ingin kembali
Dari titian jahannam..
Karya:Ibrahim Zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
Sumpah pemuda
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Menyatakan.....berbahasa satu bahasa
Indonesia
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Menyatakan....berbangsa satu yaitu bangsa
Indonesia
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Mengaku....bertumpah darah satu yaitu tanah
air indonesia
Kata - kata itu yang telah engkau
ikrarkan
Janji - janji itu yang telah engkau kumandangkan
Bergejolak
jiwaku,,,,membakar samengat
Bersatulah jiwa yang baru
Bersatulah semangat yang baru
Dengan tangan inilah
Dengan akal inilah
Kita buka cakrawala yang revolusioner
Tak
usah ragu....
Tak
usah pamrih...
Tatap
masa depanmu
Tantangan
menghadangmu
Mari
kita buat perubahan yang berarti
KARYA;Ibrahim Zane
(LAKSAMANA POETIKA
ZAMAN)
“HARAPAN”
Satu
malam
Satu
lemba saja
Diam
dan mulailah
Menuliskannya..
Bukankah
janjimu
Ingin
jadi SARJANA..
Janganlah
membut mereka
Meneteskan
air mata mulia mereka..
Bukankah
harapan mereka
Tidak
mengada-ada
Hanya
ingin melihat
Kamu
menjadi SARJANA..
Baju
toga itu
Meringankan
semua
Keringat
mereka..
Menghapus
air mata mulia mereka..
Membayar
semua pengorbanan mereka..
INGAT...bukan
emas dan permata
Sebagai
bentuk balasan jasa...
SARJANA...saja...
Lupakah
kamu waktu itu
Mereka
mengantarmu ke kota...
Mereka
pulang, lalu bercerita kepada
Siapa
saja bahwa anakku
Sekarang
kuliah dan menjadi calon SARJANA..
Mereka
lalu menjual apapun yang ada..
Mereka
mulai menghemat uang belanja..
Tetap
bekerja walaupun hujan dan panas
Yang
mereka rasakan....
(didedikasikan untuk
AYAH dan IBU)
KARYA:
anonimus ( i )
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
rapuh
Bisakah
aku berdiri sendiri
Bisakah
aku tegar...terkadang aku tegar
Akan
tetapi...
Aku
di kalahkan oleh keadaan...
Hati yang dulu tegar
Kini mulai rapuh
Mata yang dulu kering
Kini mulai di
basahi...
Oleh tetesan-tetesan
air mata...
Bila
di ujung penantian
Ku
dapat tegar kembali...
Dapatkah
semua itu ku lakukan...
Hanya
dapat meratapi nasip...
aku
lemah, tak dapat berdaya...
Luka ini membuat ku
sadar
Yang tampak dengan
mata
Tak selamanya
nyata...
Yang di rasakan
indah...
Suatu saat akan
hilang tanpa jejak...
Tapi
hati ini mengajarkanku...
Arti
dari keindahan itu
Hanyalah
bayangan semu semata...
Dan
fatamorgana....
KARYA:
Ibrahim Zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
ANAK RANTAU
Takkala
fajar menyingsing
Air
mataku slalu berderai
Takkala
matahari terbit
Air
mataku selalu berderai
Di negeri orang ku coba bertahan
Mengais sedikit belas kasihan
Bertahan dengan sedikit iman
Berharap gelap menjadi terang
Di
sini telah ku tancapkan harapan
Telah
aku tancapkan semuanya
Karna
aku yakin, tak ada yang tak mungkin
Semua
pasti bisa berubah
Dengar.... dengarlah jeritanku
Jeritan anak perantau
Jeritan hati yang selalu jauh dari keluarga
Ayah... bunda akan aku tepati janjiku
Akan
tetapi.... ingat....
Jeritan
itu akan jadi seruan
Akan
jadi acuan semua orang
Takkala
di hari depan
Jangan memandang
Jangan engkau melecehkan kami
Kami sanggup berdiri...
Kami masih sanggup berlari
Sepanjang
mata memandang
Tak
ada yang dapat ku jadikan pegangan
Hanya
desiran dan deburan
Tenangnya
lautan FLORES
TUNGGU
AKU,... AKU PASTI KEMBALI
Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
SAHABATKU
Ku
yang berjalan sendiri
Hanya
dapat berpegang kepadamu
Hanya
dapat mengeluh kepadamu
Hanya
dapat menjerit kepadamu
Engkau yang menjadi penuntunku
Dalam baik buruknya
Dan manis pahitnya hidup
Hanya kata-kata yang dapat terucap
Dalam
sedihku...engkau selalu ada
Dalam
rintihku...engkau mendampingiku
Walaupun
terkadang aku lemparkan kata-kata
Kata-kata
yang menyakiti hatimu
Terima kasih temanku..
Terima kasih sobatku..
Tanpa engkau aku bukan apa-apa
Tanpa engkau aku bukan siapa-siapa
Entah
kapan....dan dimana
Ku
dapat membalas jasamu
Yang
setara, yang setimpal
Dengan
apa yang kamu lakukan...
Engkau penasehat terbaikku
Engkau keluarga terbaikku
Engkau tumpuan di negri orang
Engkau sahabat-sahabat terbaikku
Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
RESTUMU BUNDAKU
Aku
pergi dengan tekatku
Tetapi
aku dengar dengungan suara
Yang
tak rela melepasku
Untuk
melangkah lebih jauh
Gelimangan air mata haru
Menghantarkanku pergi
Meninggalkan semua yang pernah aku miliki
Menuju gemerlap dunia luar
Hati
kecil ini pun berbisik
Engkau
pergi untuk mereka
Engkau
melangkah untuk mereka
Engkau
berkorban untuk masa depan
Seraya dengan menghilangnya bayangan itu
Angin yang sepoi, membawa getaran
Getaran sebuah nada dan lantunan yang
lembut
Yang tak dapat ku bendung dengan hatiku
Bayangan
itu semakin kecil
Tetapi
suara lantunan sebuah kata
Tetap
mengiringiku menuju peraduanku
Yang
selama ini yang aku impikan
Bagai petir yang menyambar tanpa awan
Kata itu membakar semangatku
Menumbuhkan daya juangku
Untuk terus melangka...melangkah
Hanya
satu senjata yang di berikan
Hanya
sebaris kalimat yang di berikan
Hanya
sepotong ilmu yang di berikan kepadaku
Yang
selalu aku jadikan pegangan hidup
Ananda melangkahlah
Melangkah lebih jauh
Genggam mentari yang bersinar
Gapai cita-citamu
Disini
kami selalu ada untukmu
Doa
restu kan selalu menyertaimu
Selamat
jalan anada
Selamat
jalan ananku tercinta
Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
“TEGAR”
Langakah
demi langkah
Telah
ku jalani
Tatih
demi tatih
Telah
aku lewati
Bisakah aku seperi dia
Akankah aku seperti dia
Hanya keyakinan yang ada
Dan tersisa pula keberania
Langkah
ini, telah membawaku ke sebuah titik
Ku
melangkah dengan pasti
Ku
berjalan dengan keyakinan
Akan
ada sebuah cahaya di kegelapan
Lelah...lelah...lelah...
Hanya kata yang menemaniku
Hanya kata itu yang jadi tongkatku
Tongkat keberhasilan
Tak
ada yang bisa aku jadikan sandaran
Tak
ada yang bisa ku jadikan acuan
Hanya
mengikuti apa yang berbisik
Dan
kedalaman bisikan qalbu
Mentari tak dapat lagi aku jadikan teman
Di kala malam...
Bulan tak dapat lagi aku jadikan sobat
Di kala siang...
Tekatku
semakin tumbuh
Di
kala aku dengar seruan hati
Yang
tatkala aku dengar
Laluilah
dengan ketabahan
Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar