Jumat, 23 Januari 2015

Mutiara tertanam
Pandangan yang terhunus tajam
Seakan menukik.....
Menghancurleburkan kepenatan di hati
Tutur kata yang teramat bersahaja
Terhujam begitu tajam, begitu dalam
Terurai sebuah kata.....SEMPURNA
           
Terhujam sebuah kata sederhana
            Telah terjawab kegalauanku
            Cakrawala yang dahulu redup
            Kini telah bangkit
            Memunculkan secerca cahaya
            Di balik jeruji kepenatan

Pandangan yang terhunus tajam
Memberi makna...
Betapa anggunya kepribadianmu
Indah dipandang
Dalam kemurnian akhlakmu
           
Kupandang lagi dirimu
            Merenungkan segalanya
            Tiada cela-cela apapun
            Yang dapat ku cerca
            Hanya satu kata terlintas
            “SEMPURNA”
                                                              “Karya;ibrahim zane”
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)
                          









Diatas titian jahannam
Dalam deru darah dan debar jantungku
Selalu terlintas nama  “Mulia-Mu”
Selalu terbayang “Kebesaran-Mu”
Selalu ku agungkan “Nama-Mu”

  Akan tetapi deruh darah dan debar jantung itu
  Telah berubah..!!!
  Menjadi deruh dan debar bisikan yang hitam
  Deru dan debar kemuliaan itu
  Telah musnah di telan hari-hariku

Wahai dunia......sadarkan aku.... sadarkan aku..
Dalam gelombang nadiku
Dalam desahan nafasku
Jahannam menantiku...
Jahannam menyertaiku...
Jahannam mengintaiku...

  Jangan biarkan aku terlarut
  Jangan biarkanku hanyut
  Dalam kesesatan dan kehitaman ini
  Ku ingin kembali
  Dari titian jahannam..
                                                              
                                                                Karya:Ibrahim Zane 
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)








Sumpah pemuda
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Menyatakan.....berbahasa satu bahasa Indonesia
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Menyatakan....berbangsa satu yaitu bangsa Indonesia
Kami pemuda-pemudi bangsa Indonesia
Mengaku....bertumpah darah satu yaitu tanah air indonesia

 Kata - kata itu yang telah engkau
                           ikrarkan
 Janji - janji itu yang telah engkau kumandangkan
                           Bergejolak jiwaku,,,,membakar samengat

Bersatulah jiwa yang baru
Bersatulah semangat yang baru
Dengan tangan inilah
Dengan akal inilah
Kita buka cakrawala yang revolusioner

                           Tak usah ragu....
                           Tak usah pamrih...
                           Tatap masa depanmu
                           Tantangan menghadangmu
                           Mari kita buat perubahan yang berarti

                     KARYA;Ibrahim Zane
                         (LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)









“HARAPAN”
Satu malam
Satu lemba saja
Diam dan mulailah
Menuliskannya..
Bukankah janjimu                                   
Ingin jadi SARJANA..
Janganlah membut mereka
Meneteskan air mata mulia mereka..
Bukankah harapan mereka
Tidak mengada-ada
Hanya ingin melihat
Kamu menjadi SARJANA..
Baju toga itu
Meringankan semua
Keringat mereka..
Menghapus air mata mulia mereka..
Membayar semua pengorbanan mereka..
INGAT...bukan emas dan permata
Sebagai bentuk balasan jasa...
SARJANA...saja...
Lupakah kamu waktu itu
Mereka mengantarmu ke kota...
Mereka pulang, lalu bercerita kepada
Siapa saja bahwa anakku
Sekarang kuliah dan menjadi calon SARJANA..
Mereka lalu menjual apapun yang ada..
Mereka mulai menghemat uang belanja..
Tetap bekerja walaupun hujan dan panas
Yang mereka rasakan....
                           (didedikasikan untuk AYAH dan IBU)
                                                                                                   KARYA: anonimus ( i )
                                                                                        (LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)



rapuh

Bisakah aku berdiri sendiri
Bisakah aku tegar...terkadang aku tegar
Akan tetapi...
Aku di kalahkan oleh keadaan...
                           Hati yang dulu tegar
                           Kini mulai rapuh
                           Mata yang dulu kering
                           Kini mulai di basahi...
                           Oleh tetesan-tetesan air mata...
Bila di ujung penantian
Ku dapat tegar kembali...
Dapatkah semua itu ku lakukan...
Hanya dapat meratapi nasip...
aku lemah, tak dapat berdaya...
                           Luka ini membuat ku sadar
                           Yang tampak dengan mata
                           Tak selamanya nyata...
                           Yang di rasakan indah...
                           Suatu saat akan hilang tanpa jejak...
Tapi hati ini mengajarkanku...
Arti dari keindahan itu
Hanyalah bayangan semu semata...
Dan fatamorgana....
                                                                

                                                                 KARYA: Ibrahim Zane
                (LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)


 ANAK RANTAU
Takkala fajar menyingsing
Air mataku slalu berderai
Takkala matahari terbit
Air mataku selalu berderai
    Di negeri orang ku coba bertahan
    Mengais sedikit belas kasihan
    Bertahan dengan sedikit iman
    Berharap gelap menjadi terang
Di sini telah ku tancapkan harapan
Telah aku tancapkan semuanya
Karna aku yakin, tak ada yang tak mungkin
Semua pasti bisa berubah
    Dengar.... dengarlah jeritanku
    Jeritan anak perantau
    Jeritan hati yang selalu jauh dari keluarga
    Ayah... bunda akan aku tepati janjiku
Akan tetapi.... ingat....
Jeritan itu akan jadi seruan
Akan jadi acuan semua orang
Takkala di hari depan
    Jangan memandang
    Jangan engkau melecehkan kami
    Kami sanggup berdiri...
    Kami masih sanggup berlari
Sepanjang mata memandang
Tak ada yang dapat ku jadikan pegangan
Hanya desiran dan deburan
Tenangnya lautan FLORES
TUNGGU AKU,... AKU PASTI KEMBALI


                                                               Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)











SAHABATKU

Ku yang berjalan sendiri
Hanya dapat berpegang kepadamu
Hanya dapat mengeluh kepadamu
Hanya dapat menjerit kepadamu
   
    Engkau yang menjadi penuntunku
    Dalam baik buruknya
    Dan manis pahitnya hidup
    Hanya kata-kata yang dapat terucap

Dalam sedihku...engkau selalu ada
Dalam rintihku...engkau mendampingiku
Walaupun terkadang aku lemparkan kata-kata
Kata-kata yang menyakiti hatimu
   
    Terima kasih temanku..
    Terima kasih sobatku..
    Tanpa engkau aku bukan apa-apa
    Tanpa engkau aku bukan siapa-siapa

Entah kapan....dan dimana
Ku dapat membalas jasamu
Yang setara, yang setimpal
Dengan apa yang kamu lakukan...
   
    Engkau penasehat terbaikku
    Engkau keluarga terbaikku
    Engkau tumpuan di negri orang
    Engkau sahabat-sahabat terbaikku

                    
                                                                  Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)




RESTUMU BUNDAKU

Aku pergi dengan tekatku
Tetapi aku dengar dengungan suara
Yang tak rela melepasku
Untuk melangkah lebih jauh
    Gelimangan air mata haru
    Menghantarkanku pergi
    Meninggalkan semua yang pernah aku miliki
    Menuju gemerlap dunia luar
Hati kecil ini pun berbisik
Engkau pergi untuk mereka
Engkau melangkah untuk mereka
Engkau berkorban untuk masa depan
    Seraya dengan menghilangnya bayangan itu
    Angin yang sepoi, membawa getaran
    Getaran sebuah nada dan lantunan yang lembut
    Yang tak dapat ku bendung dengan hatiku
Bayangan itu semakin kecil
Tetapi suara lantunan sebuah kata
Tetap mengiringiku menuju peraduanku
Yang selama ini yang aku impikan
    Bagai petir yang menyambar tanpa awan
    Kata itu membakar semangatku
    Menumbuhkan daya juangku
    Untuk terus melangka...melangkah
Hanya satu senjata yang di berikan
Hanya sebaris kalimat yang di berikan
Hanya sepotong ilmu yang di berikan kepadaku
Yang selalu aku jadikan pegangan hidup
    Ananda melangkahlah
    Melangkah lebih jauh
    Genggam mentari yang bersinar
    Gapai cita-citamu
Disini kami selalu ada untukmu
Doa restu kan selalu menyertaimu
Selamat jalan anada
Selamat jalan ananku tercinta           
                                                             

                                                               Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)




“TEGAR”
Langakah demi langkah
Telah ku jalani
Tatih demi tatih
Telah aku lewati
    Bisakah aku seperi dia
    Akankah aku seperti dia
    Hanya keyakinan yang ada
    Dan tersisa pula keberania
Langkah ini, telah membawaku ke sebuah titik
Ku melangkah dengan pasti
Ku berjalan dengan keyakinan
Akan ada sebuah cahaya di kegelapan
    Lelah...lelah...lelah...
    Hanya kata yang menemaniku
    Hanya kata itu yang jadi tongkatku
    Tongkat keberhasilan
Tak ada yang bisa aku jadikan sandaran
Tak ada yang bisa ku jadikan acuan
Hanya mengikuti apa yang berbisik
Dan kedalaman bisikan qalbu
    Mentari tak dapat lagi aku jadikan teman
    Di kala malam...
    Bulan tak dapat lagi aku jadikan sobat
    Di kala siang...
Tekatku semakin tumbuh
Di kala aku dengar seruan hati
Yang tatkala aku dengar
Laluilah dengan ketabahan
                
                                                                    Karya; ibrahim zane
(LAKSAMANA POETIKA ZAMAN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar