SEJARAH GERAKAN MAHASISWA INDONESIA
Oleh : Ibrahim zane
Sejarah
Gerakan Mahasiswa dan perkembangannya sebenarnya telah lama ada sejak zaman
kolonialisasi, pergerakan yang selalu dimotori oleh kaum muda dan terdidik ini
tidak banyak berbeda dengan gerakan mahasiswa di belahan dunia lainnya.
Semangat pemuda dan kaum terdidik ini selalu meledak-ledak yang selalu menuntut
perubahan ke arah yang lebih baik. Lahir dari kondisi obyektif, gerakan
mahasiswa selalu sesuai dengan konteks zamannya. Munculnya tradisi diskusi dan
kelompok-kelompok (club) diskusi ternyata membawa mereka pada tindakan yang
lebih kongkret.
Kondisi
obyektif masyarakat telah membawa dampak pada terbentuknya club diskusi,
organisasi, perkumpulan dan kesatuan-kesatuan yang selanjutnya mewadahi gagasan
revolusioner mereka. Nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa hanyalah
bermakna bahwa di dalam organisasi, mahasiswa ditempa dan dipenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
1.
Pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya.
2.
Pemihakan pada rakyat.
3.
Kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa.
Ketiga
syarat tersebut mencerminkan:
1.
Tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa.
2.
Metodologi gerakan mahasiswa.
3.
Strukturalisasi sumber daya manusia, logistik dan keuangan gerakan mahasiswa,
dan
4.
Program-program gerakan mahasiswa yang bermakna strategis-taktis.
Dari
penjelasan di atas bahwa nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa
tentunya sangat berbeda dengan organisasi lainnya, karena selain dituntut untuk
paham dan mengerti pesoalan-persoalan rakyat. GM (Gerakan Mahasiswa) juga
secara tidak langsung mendapat penempaan kecakapan dalam mengolah dan
mengorganisir massa.
Perkembangan
Gerakan Kaum Terpelajar Era Kolonialisasi.
Tidak
ada yang tahu persis kapan tonggak sejarah GM di Indonesia lahir. Namun
kaum-kaum terpelajar di STOVIA pada tahun 1915 telah memulai gerakan-gerakan
mereka dengan mendirikan TRIKORO-DARMO, yang selanjutnya di ikuti dengan
berdirinya organisasi-organisasi kedaerahan seperti jong java, Jong Sumatera,
Jong Celebes, Jong Minahasa, dsb. Konsolidasi baru tercipta ditahun 1930 dengan
berdirinya IM (Indonesia Moeda). Gerakan-gerakan kaum terpelajar ini bukanlah
tanpa halangan dan mengalami masa-masa sulit. Karena mereka harus face to face
dengan rejim kolonial Belanda yang merepresif, belum lagi dengan situasi yang
terjadi pada waktu itu ketika zaman pergerakan mengalami kelumpuhan setelah
pemberontakan PKI tahun 1926/27 serta pemogokan-pemogokan kaum buruh. Namun
lumpuhnya kondisi itu semakin menguatkan orientasi mereka untuk anti-kolonial,
yang termanifestasi dengan berdirinya studie-studie club alternatif serta
perkumpulan pelajar dan pemuda kedaerahan yang masih tersisa sampai pada sumpah
pemuda tahun 1928.
Pada
masa pendudukan Jepang, banyak organisasi-organisasi pemuda yang dibubarkan dan
pemuda-pemudanya dipaksa untuk memasuki organisasi bentukan Jepang yang tak
lain untuk kepentingan Jepang dalam perang Asia pasifik. Pemuda-pemuda itu
dimasukan dalam organisasi seperti Seinen dan Keibodan (Barisan Pelopor), PETA
(Pembela Tanah Air), HEIHO, Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dll, tentunya mereka
mendapatkan didikan untuk kepentingan fasisme Jepang. Namun dalam masa
pendudukan Jepang ini bukan berarti gerakan pemuda hilang sama sekali.
Munculnya Gerakan Bawah Tanah (GBT) ternyata banyak juga dilakukan oleh
pemuda-pemuda dengan mengadakan rapat-rapat gelap dan aksi
penyebaran-penyebaran pamflet berisikan sikap mereka yang anti terhadap fasisme
Jepang. Yang menarik disini, gerakan bawah tanah juga dikombinasikan dengan
gerakan kooperatif golongan Soekarno.
Gerakan
Bawah Tanah dan gerakan legal kooperatif Soekarno pada akhirnya tidak banyak
membuahkan hasil sampai kekalahan Jepang pada sekutu. Pertentangan dan konflik
yang telah lama antara kaum bawah tanah yang banyak diwakili pemuda dan
golongan tua Soekarno memuncak ketika terjadi peristiwa penculikan yang
mendesak agar Soekarno segera memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17
Agustus 1945.
PERANAN
DALAM MENUMBANGKAN REJIM SOEKARNO
Ada
yang bilang bahwa gerakan mahasiswa lahir karena momentum. Dimasa demokrasi
liberal atau orde lama dibawah kepemimpinan Soekarno mahasiswa sebenarnya
kurang memberi pendidikan politik yang berarti bagi mahasiswa setelah masa
transisi pada momentum pra dan pasca kemerdekaan. Pada masa itu pemuda dan
lassar-laskar pelajar banyak berperan penting dalam perlawanan menghadapi
sekutu dan pelucutan senjata tentara Jepang. Dalam demokrasi liberal mahasiswa
mempunyai momentum yaitu pemilu ditahun 1955, banyak berdiri
organisasi-organisasi mahasiswa yang berafiliasi ke partai politik, seperti
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafilsi dibawah PNI, Gerakan
Mahasiswa Sosialis Indonesia (GMS/GERMASOS) dengan PSI, Himpunan Mahasiswa
Islam (HMI) dengan Masyumi, Concentrasi Gerakan Mahasiawa Indonesia (CGMI)
dengan PKI.
Keterlibatan
organisasi kemahasiswaan praktis terseret dalam politik praktis yang banyak
mempunyai hubungan-hubungan khusus dengan administrator pemerintah khususnya
pihak militer, jadi tidaklah heran jika kolaborasi mereka sangat dekat.
Puncaknya adalah ketika aksi-aksi mahasiswa menentang dan menumbangkan rejim
Soekarno.
Dalam
masa ini orientasi gerakan mahasiswa sudah mulai membaik dalam mengugat
hubungan sosial kapitalisme, fasisme, imperialisme, dan sisa-sisa feodalisme
dikalahkah oleh kesiapan militer (yang masuk dalam gerakan pemuda mahasiswa dan
partai-partai sayap kanan). Jadi Gerakan Mahasiswa periode 66 dapat dikatakan
Gerakan Mahasiswa yang tidak sepenuhnya berpihak pada rakyat.
MUNCULNYA
ORDE BARU
Kolaborasi
dengan militer (Angkatan Darat) dalam menggulingkan orde lama dengan harapan
orde baru dapat memperbaiki keadaan ternyata salah besar dan sebelum tahun
1970, beberapa aktivis yang sadar akan kekeliruan ini antara lain Soe Hok Gie
dan Ahmad Wahib karena terpisah dari kekuatan rakyat tapi lebih tergabung dalam
kekuatan-kekuatan militer pada waktu itu. Terang saja orde baru, di bawah
kepemimpinan jenderal Soeharto yang militeristik itu mengeluarkan UU pertama
yaitu UU PMA yang notabene menjadi pintu masuk pemodal asing dan saat itu juga
Indonesia resmi menjadi Negara yang bermahzab liberalisme/kapitalisme, yang di
bawah Soeharto disamarkan dengan kata pembangunanisme (developmentalism).
Namun
kesadaran dari para aktivis-aktivis itu ternyata masih belum bisa menjadi
pelajaran dan bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh mereka. Gerakan
dan aksi-aksi mereka cenderung lebih reaksioner dan selalu mengalami kegagalan,
yang disatu sisi orde baru telah menjadi kekuatan yang represif dalam menindak
aksi-aksi mahasiswa. Jadi pada periode 74-78 dapat dikatakan Gerakan Mahasiswa
mengalami kegagalan karena gerakan tersebut kurang berinteraksi dengan massa
rakyat dan terkesan reaksioner.
Pasca
peristiwa Malari (Malapetaka Januari), orde baru yang sadar akan potensi
mahasiswa dengan gerakannya ditahun 1974 langsung mengeluarkan UU NKK/BKK
(Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus) melalui Menteri
Pendidikan waktu itu Moch Daud Jususf. Praktis gerakan-gerakan mahasiswa dan segala
aktivitas mendapat pengawasan dan kekangan yang luar biasa dari pemerintah yang
tak segan-segan menangkap dan merepresif mereka.
Aksi-aksi
bawah tanah dan keluar dari kampus mau tidak mau harus mereka lakukan dengan
meninggalkan bangku-bangku kuliah mereka untuk menghindari represifitas aparat
yang semakin menjadi-jadi.
Tahun
1980an menjadi titik balik kebangkitan gerakan mahasiswa dalam menggalang lagi
budaya diskusi dan kritis menyikapi kebijakan pemerintah yang terkadang
sewenang-wenang dan tidak ada yang berani mengkritisi karena tekanan militer
yang siap menggasak siapapun yang dianggap mengganggu stabilitas pembangunan.
Tawaran belajar ke luar negeri beberapa tokoh-tokoh mahasiswa karena alasan
untuk menyiapkan teknokrat-teknokrat yang diharapkan menjadi pendukung paham
pembangunan orde baru ternyata membawa dampak yang sebaliknya menyuburkan
budaya diskusi, penelitian masyarakat dan aksi-aksi sosial kedermawanan bagi
orde baru itu.
Puncaknya
adalah aksi turun ke jalan besar-besaran di Ujung Pandang dengan aksi jalan
(long march) dan massa yang lumayan besar menentang kebijakan-kebijakan
peraturan lalu lintas, judi, dan ekspresi kesulitan ekonomi. Aksi dapat
dihentikan dengan membawa korban jiwa hasil dari represitas aparat. Meski dapat
dihentikan, Ujung Pandang secara tidak langsung telah memberikan semacam trend
baru dengan aksi2 turun ke jalan sebaga bentuk protes mereka walaupun mereka
harus berhadapan langsung dengan aparat.
Alhasil dalam kurun tahun 1987 sampai akhir tahun 1997/98, banyak aktivis yang terbunuh dan hilang diculik sampai sekarang.
Alhasil dalam kurun tahun 1987 sampai akhir tahun 1997/98, banyak aktivis yang terbunuh dan hilang diculik sampai sekarang.
Momentum
krisis ekonomi yang melanda Asia Tenggara, dan pembayaran hutang luar negeri
yang jatuh tempo telah membuat perekonomian Indonesia berguncang yang
mengakibatkan kondisi tidak stabil. Momentum inilah kemudian menjadikan
kontradiksi di rakyat yang secara langsung mengalami kesulitan-kesulitan.
Sedangkan gerakan-gerakan mahasiswa yang sebelumnya sudah tergabung dengan
kekuatan rakyat semakin hari hari semakin berani dengan aksi-aksi mereka meski
terkadang jatuh korban jiwa akibat represifitas penembakan-penembakan yang
dilakukan aparat.geliat mahasiswa juga sedang bangkit-bangkitnya hampir di
setiap pojok kampus mahasiswa pasti membicarakan keadaan Indonesia, kondisi
yang dahulu apatis dan apolitis menjadi berubah secara frontal.
Puncaknya
adalah ketika terjadi peristiwa Trisakti yang mengakibatkan tiga mahasiswanya
tewas akibat terjangan peluru aparat. Peristiwa itu menimbulkan reaksi yang
luar biasa dari rakyat dan berujung dengan kerusuhan di beberapa kota khusunya
di Jakarta yang berakhir dengan penjarahan, pembakaran dan pemerkaosan di
kota-kota besar. Semakin menemukan titik ternag bahwa Soeharto sebagai public
enemy membuat gerakan-gerakan mahasiswa yang sudah terlanjur bergabung dengan
potensi-potensi rakyat tak terbendung dan pada tanggal 21 Mei Soeharto tak
kuasa untuk bertahan dan akhirnya mundur, yang disambut dengan gegap gempita
rakyat dan mahasiswa di seluruh negeri.
GERAKAN
MAHASISWA SEKARANG
Sudah
menjadi watak alami dari borjuasi di Indonesia yang pengecut dan selalu
menghambakan diri kepada kekuatan modal asing. Hal ini tercermin lewat
kebijakan Mega-Hamzah di lanjutkan oleh SBY - JK yang sejak awal
menitikberatkan pada pembangunan situasi yang kondusif di dalam negeri untuk
menarik investor asing masuk ke Indonesia. Solusi kebijakan ini ternyata pada
perkembangannya hanya menambah hutang-hutang baru yang dilimpahkan ke rakyat
dan yang terjadi malah krisis berkepanjangan. Salah satu kebijakan dari rejim
Mega-Hamzah yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan rakyat adalah
pencabutan subsidi sehingga menibulkan efek domino yang memicu tingkat kenaikan
harga bahan pokok. Selain itu di sektor industri terjadi “pengefesiensian”
akibat melambungnya harga BBM, konsekuensinya terjadi rasionalisasi
besar-besaran terhadap buruh pabrik. Akibat dari itu adalah meningkatnya jumlah
pengangguran dimana-mana hingga nominal 37 Juta. Belum lagi kebijakan fiskal
ekspor dan impor yang memicu tingkat inflasi dan menurunnya pertumbuhan ekonomi
hingga 3%. Kebijakan Mega-Hamzah yang paling fatal adalah memberikan konsesi
yang begitu besar terhadap pihak militer dengan memberikan kedudukan sentral
terhadap para pejabat militer yang bertanggungjawab pada kasus-kasus
pelanggaran HAM dan demokrasi. Hal inilah yang menjawab mengapa terjadi
represifitas yang begitu besar terhadap gerakan saat ini oleh aparat.
Melihat
hal ini justru gerakan mahasiswa mengalami kemunduran dan menjadi terpisah
dengan basis massa rakyat lainnya. Gerakan mahasiswa malah sibuk dengan isu-isu
yang elitis dan cenderung tidak fokus. Hanya beberapa saja dari organ gerakan
ekstra kampus yang masih mampu mengkonsolidasikan diri dan terus menerus secara
konsisten melakukan tuntutan terhadap rejim. Namun yang terjadi sekali lagi
adalah pengulangan sejarah, rejim Mega-Hamzah yang awalnya diharapkan mampu
bertindak lebih demokratis dan populis ternyata malah mempraktekkan kebijakan
yang sama dengan jaman Orde Baru berkuasa. Terjadi pemberangusan terhadap
nilai-nilai demokrasi di gerakan lewat penangkapan aktivis-aktivis demokrasi,
terjadi pengilusian terhadap gerakan mahasiswa oleh rejim dengan
mengkampanyekan gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral semata. Artinya gerakan
mahasiswa cukup mengkritisi saja problema yang ada bukannya menjadi kelas transisional
terhadap kelas yang lain untuk memberikan transformasi kesadaran ke hal yang
lebih progresif dan menjelaskan kepada massa akan perlunya rakyat mengambil
alih pemerintahan sebagaimana selalu dikampanyekan oleh organ-organ pro
demokrasi
Keberhasilan
rejim SBY-Boediono merebut kembali setelah kemenangan pada 2004 menjadikan
gerakan mahasiswa bahwa SBY sebagai public enemy rakyat dan mahasiswa.
Kebijakan serta cara-cara militeristik gaya orde baru ternyata dihidupkan lagi,
serta paham neoliberalisme yang kental terkesan kuat oleh rejim ini. Tidak
salah jika SBY mendapat predikat sebagai kebangkitan ode baru jilid II. Namun
tipu muslihat dengan pergeseran tata cara berpolitik rupanya (politik
pencitraan) banyak menjebak rakyat terhadap kesan SBY. Sehingga dengan mudah
SBY selalu mampu lolos dari pengamatan rakyat.
Kondisi
ini ditambah dengan semakin apolitis dan apatisnya mahasiswa terhadap
persoalan-persoalan nasional, sedangkan satu sisi banyak aktivis yang sudah
jinak dan lebih suka merapat ke lingakaran rejim SBY. Membuat perjuangan
semakin berat.
Gerakan
mahasiswa menjadi gagap dalam merespon keadaan krisis ini berbeda dengan sektor
massa yang lain; Buruh, Tani, Kaum Miskin Kota yang tanpa dukungan dari
mahasiswa-pun ternyata mampu melakukan aksi dalam skala besar. Disinilah peran
pelopor gerakan mahasiswa untuk menyatukan kekuatan-kekuatan tersebut menjadi
hal yang urgen. Rakyat yang sedang resah membutuhkan sebuah kepeloporan
dalam hal kesadaran disini. Memajukan kesadaran ekonomis massa hingga menuju
tataran politis adalah konkretan kepeloporan yang dimaksud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar