Arti
Sebuah Kata ” MAHASISWA”
Oleh : Ibrahim zane
Mahasiswa adalah Agen Perubahan
Mahasiswa merupakan
golongan masyarakat yang mendapatkan pendidikan tertinggi, dan punya perspektif
luas untuk bergerak diseluruh aspek kehidupan dan merupakan generasi yang
bersinggungan langsung dengan kehidupan akademis dan politik, oleh sebab itu
adanya miniature state dikalangan mahasiswa merupakan proses pembelajaran
politik untuk mahasiswa walaupun pada akhirnya dalam tataran politik praktis,
gerakan-gerakan mahasiswa idealnya harus tetap bersifat independent dan tidak
terjebak pada sikap pragmatis dan oportunis. Tapi pada kenyataannya saat ini
banyak gerakan mahasiswa yang sudah ditumpangi elit-elit politik sehingga
mereka tidak bisa bergerak bebas untuk menjalankan fungsinya sebagai alat
control politik karena terikat perjanjian dengan elit politik tersebut.
Hal inipun disinyalir
penyebab melempemnya gerakan mahasiswa pasca reformasi Selain itu telah terjadi
fragmentasi di intern gerakan mahasiswa itu sendiri yang disebabkan perbedaan
ideology dan cara pandang terhadap permasalahan tertentu, dan munculnya
mahasiswa opurtunis di tubuh gerakan mahasiswa dimanfaatkan kepentingan
individu maupun kelompok dalam rangka mempertahankan eksistensi mereka. Bahkan
ada stigma yang berkembang di masyrakat bahwa untuk membiyai kebutuhan logistic
organisasi agar program kerja organisasi tetap terlaksana akhirnya gerakan
mahasiswa pun terjebak pada UUD “Ujung-Ujungya Duit” dan tumbuhlah budaya ABS
“Asal Bapak Senang”, hal ini merupakan momok bagi pergerakan mahasiswa yang
selama ini dikenal sebagai golongan masyarakat yang idealis dan berpihak pada
masyarakat, untuk mengembalikan kembali image itu kita perlu belajar pada
sejarah sebagaimana pepatah para ilmuan Prancis , L’ Histoire Se Repete
(sejarah akan selalu berulang) untuk itu maka sepatutnyalah saat ini gerakan mahasiswa
mulai merekontruksi soliditas gerakan dan menjalin komunikasi lintas gerakan
dengan menghilangkan kecurigaan dan merasa benar sendiri (high egoisme), dan
mulailah untuk kembali menata idealisme dan mengavaluasi format gerakan
mahasiswa selama ini. Hal-hal tersebut harus diupayakan dalam rangka
mengefektifkan kembali mahasiswa sebagai preasure penguasa.
MAHASISWA yang
memiliki predikat educated midle class dari dulu hingga kini akan selalu
memiliki fungsi strategis, yaitu sebagai iron stock, agent of change, dan
social control. Yang terakhir disebut adalah fungsi mahasiswa secara taktis
yang merespons realitas di masyarakat untuk menjaga keseimbangan sosial antara
pemerintah sebagai pengelola dan rakyat sebagai yang dikelola. Sebagai social
control (kontrol sosial) mahasiswa mendapat beban moral menjadi penengah antara
kaum elite dan alit, menjadi mediator publik. Fungsi taktis mahasiswa sebagai
kontrol sosial dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu peran mahasiswa sebagai
“alarm” dan peran mahasiswa sebagai “palu”. Sebagai alarm mahasiswa berfungsi
sebagai pemberi sinyal adanya kesenjangan antara harapan publik dan penguasa
sebagai pemberi hak publik. Secara otomatis, sinyal itu menjadi alarm bagi
pemerintah untuk melakukan koreksi diri.
Dengan kata lain,
mahasiswa melakukan gerakan untuk mengingatkan pemerintah melalui aksi-aksi
mahasiswa, baik aksi agitasi maupun aksi turun ke jalan. Peran ini menjadi
alternatif pertama gerakan mahasiswa sebagai kontrol sosial yang memiliki
dampak tak langsung dalam menyelesaikan permasalahan sosial. Peran kedua
mahasiswa sebagai palu adalah alternatif berikutnya yang ditempuh ketika peran
sebagai alarm tidak membuahkan solusi pasti. Pada tahap ini gerakan mahasiswa
langsung berdampak pada perubahan sosial. Mahasiswa tidak lagi bersifat pasif,
akan tetapi aktif dalam melakukan perubahan sosial. Peran mahasiswa dalam
melakukan kontrol sosial mutlak diperlukan untuk mencegah adanya akumulasi
kekuasaan di tubuh pemerintahan yang sedang berjalan.
Kebekuan gerakan
mahasiswa selama 32 tahun pada masa pemerintahan Soeharto menjadi jalan bebas
hambatan bagi pemerintah saat itu dalam mengabadikan kekuasaan. Fakta ini
membuktikan bahwa mahasiswa sebagai kontrol sosial menjadi garda terdepan dalam
menjaga kestabilan sosial. Fungsi taktis yang menopang peran mahasiswa dalam
mengawasi pemerintah bukan tanpa masalah. Saat ini mahasiswa mulai kehilangan
format gerakan yang tepat dalam menjalankan fungsinya tersebut. Gerakan yang
dilakukan mahasiswa harus bisa menjadi problem solver yang memecah kebuntuan
polemik pemerintah yang berkuasa. Sudah saatnya mahasiswa kembali
merevitalisasi gerakannya dalam mengawasi pemerintah. Melakukan aksi moral
intelektual dalam memformat gerakan mahasiswa, menjaga idealisme tanpa
melupakan realitas lingkungan, melakukan gerakan yang bersinergi dengan logika
perut rakyat serta membangun sense of crisis mahasiswa. Dengan hal-hal tersebut
mahasiswa dapat melakukan fungsi taktisnya dalam mengawasi pemerintah, dalam
hal ini mahasiswa menjadikan pemerintah tidak sebagai musuh akan tetapi mitra
menyejahterakan masyarakat
www.kajiansastra.blogspot.comwww.ibrahimsaompumokossa.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar