PROSA
SENAR IKATAN HATI
Oleh : Ibrahim Zane
Basah mataku, bukan tergambar kesedihan
Berbinar mataku, bukan tergambar ranumnya hati
Berkabun hati, bukan tersayatnya diri
Namun engkau telah melempar hina ikatan itu
Berkabun, mendera basah lalu bersikut miris
Seakan bukan salah kita tapi salahku
Pada satu masa kelopak ini akan menjadi kelopak
Yang terasingkan dari simpul-simpul hati kita
Tertunduk lesu bukan aku tak kuasa
Tertunduk malu
Karena ragamu terpisah dari ikatan itu
Ikatan yang dulu aku, serta kita semua
Dengan susah payahnya
Dengan segala kemampuan tersisa
Kita rajut rapi seta kita tata indah
Ukuwah saompu dahulu
Mari. . . mari, daku mengajak
Dengan bangga diriku pada kalian
Kutitipkan segalanya pada pundak-pundak kalian
Jagalah. . . rawatlah serta semai
Pada hati-hati kalian
Bahwa senar ikatan hati kita
Takkan semudah itu rapuh dan lapuk
Hanya dengan hitungan jemari saja
Berikan bukti pada kami semua
Senar ikatan hati akan menjadi
Simpul yang kokoh
Dan takkan selamanya rapuh
Wahai saudaraku setubuh
Dia membutuhkan kita
Membutuhkan kita yang telah lupa
Jauh, pergi, berlari serta lenyap ditelan fatamorgana asing
Tanpa mengucapkan sebait katapun
Untuk menghantarkan ia
Pada titik puncaknya
Apakah kita telah pikun sejenak
Ataukah telah lupa selama-lamanya
Dahulu engkau telah berikrar di depanku
Hidup matiku segalanya untuknya
Jiwa ragaku akan ku gadaikan untuknya
Seketika bergelombang nadiku
Bahwa ada harapan di tengah sana
Sekalipun harapan itu masih berupa titik noda
Yang sewaktu-waktu akan merambat besar-besar dan besar
Lalu menjadi sebuah hal yang patut dibanggakan
Akan tetapi. . .
Jangan lupa saudaraku
Angin takkan pernah bertiup searah dengan hatimu
Dia sewaktu-waktu dapat berbalik
Melawan, menyerang, bersekutu lalu tertawa
Karena atas kerapuhan kita
Yang tak kuasa membentengi diri
Lalu dengan sinisnya serta angkuhnya
Sengaja tak sengaja kita bertutur kata
Ah. . . ini hanya sementara
Ini hanya sekejap saja
Wahai engkau yang dikandungnya
Berikanlah yang seharusnya engkau berikan
Aku tak pernah meminta hal besar
Cukuplah, jagalah senar ikatan hati saompu
Itulah napasku. . .
Itulah nadi dari segala nadi yang ada
Fokmasku aku akan merintih
Jika kalian dan kita semua merintih
Dia akan layu
Jika senar ikatan hati saompu tidak engkau pupuk
Dia akan berdiri tegak menjulang tinggi
Setinggi yang tak pernah terlintas sebelumnya
Dimana kalian semua
Dimanakah ikrarmu dahulu
Aku menginginkan itu
Tunjukkan di hadapanku bahwa engkau mampu berkorban
Bahwa engkau bukanlah pengecut
Yang hanya bermanis dalam kubangan liarmu
Yang hanya dapat bersolek ria
Sekali-kali cekikikan sinis
Menatap hasil burukmu
Saudaraku. . .
Mari kita semai saompu
kita dahulu
Dengan satu harapan
Senar ikatan hati
Dapat kita semai
Lalu mekar segar untuk selama-lamanya
Fokmasku aku mencintaimu
Bukan dengan cinta yang semu semata
Cintaku kekal. . .
Seperti kekalnya janji sang Ilahi
Aku mencintaimu. . .
Aku mencinaimu. . .
Aku mencintaimu. . .
Aku mencintaimu. . .
Lelaplah tertidur dengan bangga
Wahai engkau senar ikatan hati
Jangan pernah terjaga lalu pergi meninggalkanku
Fokmas. . . bukti nyata telah berbicara padamu
Ketulusan telah menyapamu
Inilah aku. . . inilah ragaku
Kami siap berdarah untukmu
Demi kehormatanmu
Jangan pernah terjaga
Senar ikatan hati saompu kan tetap utuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar